بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

KUMPULAN CERAMAH "BAHAGIA DUNIA AKHIRAT"

Assalamualaikum

Dibawah ini adalah link dari berbagai ceramah dengan topik BAHAGIA DUNIA DAN AKHIRAT dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat....

1. Ust. K.H. Arifin Ilham; Bahagia Dunia dan Akhirat  (https://www.youtube.com/watch?v=bNd_EOxxC0E)

2. Ust. Adi Hidayat Lc, MA : Kunci Hidup Bahagia (https://www.youtube.com/watch?v=0KQz3-5Jz0w)

[+/-] Selengkapnya...

Rumus Jitu Aa Gym, Hadapi Persoalan Hidup



Bagaimana cara efektif agar kita bisa menghadapi persoalan hidup?


Sebelumnya, harus kita pahami terlebih dulu. Jangan menganggap persoalan sebagai sesuatu yang merendahkan diri kita. Coba, saya tanya, Rasulullah itu hidupnya banyak ujian? Banyak masalah? Sering dihina, dicaci dan dimusuhi banyak orang? Nah, bagaimana sosok Rasul? Beliau manusia yang mulia kan? Persoalan adalah sesuatu yang mengangkat derajat seseorang. Justru jangan bangga ketika tidak ada persoalan dalam hidup kita. Pada intinya ujian itu bisa berupa kelapangan/kemudahan dan kesempitan/kesusahan. Ujian kelapangan itu yang lebih bahaya. Karena ketika berada dalam kondisi lapang, kita cenderung sedikit mengingat Allah.
Salah satu ulama pernah berkata, “Tidak bisa seseorang meraih saripati ilmu tauhid, bila belum mengamalkan ilmu kelapa.” Apa itu? Kita lihat, kelapa itu dijatuhkan dari pohon, dijambak sampai gundul, digetok pakai golok, dicungkil sampai copot, disisir, lalu diparut, dan diperas! Percayalah, dengan mengalami persoalan hidup, kita justru bisa mendapatkan banyak kebaikan. Saya pernah berada di masa-masa hidup penuh pujian. Kemudian, kondisi berbalik. Saya dicaci di infotainment dan sebagainya. Tapi dari situ, Alhamdulillah, ketika menghadapi ujian yang berat, anak-anak saya malah jadi hafidz. Pesantren jadi ramai. Persoalan hidup itu tidak bahaya, karena semua sudah diukur oleh Allah. Yang bahaya adalah, manakala kita salah dalam menyikapi persoalan hidup.

Boleh dibagi kepada keluarga sejuk NH, rumus yang Anda praktikkan dalam menghadapi persoalan hidup?

Rumus pertama, kita harus siap menghadapi yang cocok dan yang tidak cocok dengan keinginan. Mustahil semua keinginan kita terwujud, atau hidup kita semuanya cocok terus dengan apa yang kita mau. Misalnya, setiap orang tentu ingin selalu sehat. Padahal, ada masanya kita harus menghadapi sakit. Sakit dan sehat itu hanya episode kehidupan. Berapa banyak orang menjadi mulia karena sakit, dan berapa banyak orang yang hina ketika ia sehat. Setiap takdir ada jalannya. Jangan pernah berprasangka buruk. Tugas kita hanyalah: (1). Meluruskan niat lillahit ta’ala; (2). Sempurnakan ikhtiar di jalan Allah; (3). Pasrahkan dengan tawakkal. Orang yang sakit hati pasti tidak tawakkal, karena merasa keinginannya paling benar.

Rumus kedua, kalau sesuatu sudah terjadi, maka kita harus ridho. Orang stres itu bukan karena kenyataan, tapi karena tidak terima kenyataan. Terimalah takdir yang ada, sambil kita terus berikhtiar untuk takdir yang lebih berkah. Orang depresi karena tidak terima takdir. “Sulit” itu kan persepsi kita. Pujian dan cacian itu sama saja, bergantung pada bagaimana cara kita menyikapinya.

Rumus ketiga, Jangan mempersulit diri. Mudahkan, jangan dibuat ribet. Karena, rasa sakit itu sebanding dengan tingkat “ketergantungan” kita pada makhluk. Manakala kita begitu “bergantung” pada uang, misalnya, lalu uang itu hilang, maka rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Sebenarnya, orang yang paling sengsara itu mereka yang menginginkan sesuatu yang tidak ada takdirnya. Ridho, ridho, kita harus ridho. Misalkan ban kita pecah. Jangan sedih. Setelah ucapkan innalillahi, kita pahami bahwa artinya ada rezeki tukang ban di dompet kita. Aduh, tapi ngedorong motornya masih jauh! Ya, pahami, bahwa memang kita kudu olahraga. Enak kan, hidup kalau ridho seperti itu.
Dihina orang tak akan rugi. Nabi Muhammad saja, yang begitu mulia juga kerap dihina. Justru, kalau ada orang nggak suka sama kita, ini kesempatan baik supaya kita instropeksi. Apa iya kita melakukan keburukan sebagaimana yang ia katakan? Lalu, anggap saja, orang yang sebel sama kita itu, sebenarnya sayang dengan diri kita, wong dia selalu ingat kita siang dan malam. Iya kan?
Yang bahaya, kalau kita yang sebel sama tetangga. Giliran tetangga naik gaji, eh, kita naik tensi. Rugi.

Rumus keempat, evaluasi diri.  Coba kita baca Surat An-Nisa ayat 79. Karunia apapun yang kamu peroleh PASTI dari Allah. Sementara keburukan apapun MUTLAK dari diri kamu sendiri. Orang bisa tobat kalau dia merasa sebagai sumber musibah. Sementara orang nggak bisa tobat kalau dia merasa sebagai korban.
Ingat sabda Rasul, “Laa taghdhob, walakal Jannah.” Jangan marah, bagimu surga. Para pemarah susah ke surga, karena pahalanya habis. Janganlah kita banyak mikir dan komentar yang tidak perlu. Ayo terus evaluasi diri.

Rumus kelima, cukuplah Allah sebagai penolong kita. Manakala kita bersandar pada “sesuatu”, tentu ada rasa takut kehilangan “sesuatu”. Misal, kita bersandar pada jabatan. Dengar kata mutasi, eh kita malah dengarnya mutilasi. Ya itu tadi, makin bersandar pada makhluk, makin capek. Makin ingin dipuji dan dicintai, rasanya makin sakit hati.

Terus camkan dalam diri, bahwa bergaul dengan manusia bukan berarti kita mengharapkan sesuatu dari manusia lain. Jangan berharap disayangi atau diberi, tapi berharaplah untuk makin menyayangi dan memberi. Kita akan merasa lebih tenang, ketika tidak banyak berharap. Ingatlah, bahwa kita tidak dirancang untuk menyelesaikan persoalan. Dengan adanya persoalan, kita dekati Allah, dengan jalan tobat dan taat kepada-Nya. Maka, kita akan menjadi tenang, ada jalan keluar dan persoalan hidup kita beres, atas izin Allah.(*)

[+/-] Selengkapnya...

Rencana Liburan tahun 2015

1. Mekarsari dengan water kingdomnya
2. Dunia Fantasi dengan Sea worldnya
3. Kidszania

Tunggu kami...

[+/-] Selengkapnya...

Bismillahirrohmanirrohiiim....

Ya Allah.. hamba berniat untuk menghafal quran lillahi ta’ala

[+/-] Selengkapnya...

20 Cara Menguatkan Iman Anda

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran: 102)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang denan (menggunakan) nama-Nya kami saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan, barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah mendapatkan kemenangan yang besar.”
Begitulah perintah Allah kepada kita agar kita bertakwa. Namun, iman di dalam hati kita bukanlah sesuatu yang statis. Iman kita begitu dinamis. Bak gelombang air laut yang kadang pasang naik dan kadang pasang surut.
Ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu kita masih ada dalam kebaikan, kita beruntung. Namun, bila ketika kondisi iman kita lemah dan kondisi lemah itu membuat kita ada di luar koridor ajaran Rasulullah saw., kita celaka. Rasulullah saw. bersabda, “Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan. Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (Ahmad)
Begitulah kondisi hati kita. Sesuai dengan namanya, hati –dalam bahasa Arab qalban—selalu berubah-ubah (at-taqallub) dengan cepat. Rasulullah saw. berkata, “Dinamakan hati karena perubahannya. Sesungguhnya hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (Ahmad dalam Shahihul Jami’ no. 2365)
Karena itu Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita sebuah doa agar Allah saw. menetapkan hati kita dalam ketaatan. “Ya Allah Yang membolak-balikan hati-hati manusia, balikanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.” (Muslim no. 2654)
Hati kita akan kembali pada kondisi ketaatan kepada Allah swt. jika kita senantiasa memperbaharui keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu sekalian sebagaimana pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.” (Al-Hakim di Al-Mustadrak, 1/4; Al-Silsilah Ash-Shahihain no. 1585; Thabrany di Al-Kabir)
Bagaimana cara memperbaharui iman? Ada 20 sarana yang bisa kita lakukan, yaitu sebagai berikut.
1. Perbanyaklah menyimak ayat-ayat Al-Quran
Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai cahaya dan petunjuk, juga sebagai obat bagi hati manusia. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra': 82).
Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, “Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan dan memahami apa yang dimaksud dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh.”
2. Rasakan keagungan Allah seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali mengungkap keagungan Allah swt. Seorang muslim yang ketika dihadapkan dengan keagungan Allah, hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk. Kekhusukan akan hadir mengisi relung-relung hatinya.
Resapi betapa agungnya Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, yang memiliki nama-nama yang baik (asma’ul husna). Dialah Al-‘Azhim, Al-Muhaimin, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Qawiyyu, Al-Qahhar, Al-Kabiir, Al-Muth’ali. Dia yang menciptakan segala sesuatu dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.
Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut ayat ini, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi dan seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (Az-Zumar: 67)
3. Carilah ilmu syar’i
Sebab, Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28). Karenanya, dalamilah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita pada rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9). Orang yang tahu tentang hakikat penciptaan manusia, tahu tentang syariat yang diturunkan Allah sebagai tata cara hidup manusia, dan tahu ke mana tujuan akhir hidup manusia, tentu akan lebih khusyuk hatinya dalam ibadah dan kuat imannya dalam aneka gelombang ujian ketimbang orang yang jahil.
Orang yang tahu tentang apa yang halal dan haram, tentu lebih bisa menjaga diri daripada orang yang tidak tahu. Orang yang tahu bagaiman dahsyatnya siksa neraka, tentu akan lebih khusyuk. Orang yang tidak tahu bagaimana nikmatnya surga, tentu tidak akan pernah punya rasa rindu untuk meraihnya.
4. Mengikutilah halaqah dzikir
Suatu hari Abu Bakar mengunjungi Hanzhalah. “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar menanyakan apa sebabnya. Kata Hanzhalah, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw., beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga yang seakan-akan kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Lalu setelah kami pergi dari sisi Rasulullah saw. kami pun disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dankehidupan, lalu kami pun banyak lupa.”

Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Kata Rasulullah, “Demi jiwaku yang ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaanmu di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kamu di atas kasurmu dan tatkala kamu dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah, sa’atah, sa’atan, sa’atan.” (Shahih Muslim no. 2750)
Begitulah majelis dzikir. Bisa menambah bobot iman kita. Makanya para sahabat sangat bersemangat mengadakan pertemuan halaqah dzikir. “Duduklah besama kami untuk mengimani hari kiamat,” begitu ajak Muadz bin Jabal. Di halaqah itu, kita bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan Allah kepada kita, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, atau mengkaji ilmu pengetahuan lainnya.
5. Perbanyaklah amal shalih
Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah amal-amal itu menyatu dalam diri seseorang malainkan dia akan masuk surga.” (Muslim)
Begitulah seorang mukmin yang shaddiq (sejati), begitu antusias menggunakan setiap kesempatan untuk memperbanyak amal shalih. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan surga. “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid: 21)
Begitulah mereka. Sehingga keadaan mereka seperti yang digambarkan Allah swt., “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 17-19)
Banyak beramal shalih, akan menguatkan iman kita. Jika kita kontinu dengan amal-amal shalih, Allah akan mencintai kita. Dalam sebuah hadits qudsy, Rasulullah saw. menerangkan bahwa Allah berfirman, “Hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan mengerjakan nafilah sehingga Aku mencintainya.” (Shahih Bukhari no. 6137)
6. Lakukan berbagai macam ibadah
Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.
Puasa membuat kita khusyu’ dan mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya. Tahajjud menambah kekuatan.
Banyak melakukan berbagai macam ibadah bukan hanya membuat baju iman kita makin baru dan cemerlang, tapi juga menyediakan bagi kita begitu banyak pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah baik.’ Lalu barangsiapa yang menjadi orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak melakukan puasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.” (Bukhari no. 1798)
7. Hadirkan perasaan takut mati dalam keadaan su’ul khatimah
Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.
8. Banyak-banyaklah ingat mati
Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangism mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan-kelezatan, yakni kematian.” (Tirmidzi no. 230)
Mengingat-ingat mati bisa mendorong kita untuk menghindari diri dari berbuat durhaka kepada Allah; dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami’ no. 4109)
Melihat orang sakit yang sedang sakaratul maut sangat memberi bekas. Saat berziarah kubur, bayangkan kondisi keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rusak membusuk. Ulat memakan daging, isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.
Bayangan seperti itu jika membekas di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin beribadah.
9. Mengingat-ingat dahsyatnya keadaan di hari akhirat
Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.
Dengan membacanya, mata hati kita akan terbuka. Seakan-akan kita menyaksikan semua itu dan hadir di pemandangan yang dahsyat itu. Semua pengetahuan kita tentang kejadian hari kiamat, hari kebangkitan, berkumpul di mahsyar, tentang syafa’at Rasulullah saw., hisab, pahala, qishas, timbangan, jembatan, tempat tinggal yang kekal di surga atau neraka; semua itu menambah tebal iman kita.
10. Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam
Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)
Begitulah Rasulullah saw. berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah saw. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan tanda kiamat.”
11. Berdzikirlah yang banyak
Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah. “Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa.” (Al-Kahfi: 24) “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lha hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)
Ibnu Qayim berkata, “Di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa mencair kecuali dengan dzikrullah. Maka seseorang harus mengobati kekerasan hatinya dengan dzikrullah.”
12. Perbanyaklah munajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya
Seseorang selagi banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda Rasulullah saw., “Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (Muslim no. 428)
Seseorang selagi mau bermunajat kepada Allah dengan ucapan yang mencerminkan ketundukan dan kepasrahan, tentu imannya semakin kuat di hatinya. Semakin menampakan kehinaan dan kerendahan diri kepada Allah, semakin kuat iman kita. Semakin banyak berharap dan meminta kepada Allah, semakin kuat iman kita kepada Allah swt.
13. Tinggalkan angan-angan yang muluk-muluk
Ini penting untuk meningkatkan iman. Sebab, hakikat dunia hanya sesaat saja. Banyak berangan-angan hanyalah memenjara diri dan memupuk perasaan hubbud-dunya. Padahal, hidup di dunia hanyalah sesaat saja.
Allah swt. berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah dijanjikan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara: 205-207)
“Seakan-akan mereka tidak pernah diam (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari.” (Yunus: 45)
14. Memikirkan kehinaan dunia
Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperolehnya. Cinta dunia sebangun dengan takut mati. Dan kata Allah swt., “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran)
Karena itu pikirkanlah bawa dunia itu hina. Kata Rasulullah saw., “Sesungguhnya makanan anak keturunan Adam itu bisa dijadikan perumpamaan bagi dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri anak keturunan Adam, dan sesungguhnya rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa diketahui akan menjadi apakah ia.” (Thabrani)
Dengan memikirkan bahwa dunia hanya seperti itu, pikiran kita akan mencari orientasi ke hal yang lebih tinggi: surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.
15. Mengagungkan hal-hal yang terhormat di sisi Allah
“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al-Hajj: 30)
Hurumatullah adalah hak-hak Allah yang ada di diri manusia, tempat, atau waktu tertentu. Yang termasuk hurumatullah, misalnya, lelaki pilihan Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw.; tempat-tempat suci (Masjid Haram, Masjid Nabawi, Al-Aqha), dan waktu-waktu tertentu seperti bulan-bulan haram.
Yang juga termasuk hurumatullah adalah tidak menyepelekan dosa-dosa kecil. Sebab, banyak manusia binasa karena mereka menganggap ringan dosa-dosa kecil. Kata Rasulullah saw., “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bisa berhimpun pada diri seseornag hingga ia bisa membinasakan dirinya.”
16. Menguatkan sikap al-wala’ wal-bara’
Al-wala’ adalah saling tolong menolong dan pemberian loyalitas kepada sesama muslim. Sedangkan wal-bara adalah berlepas diri dan rasa memusuhi kekafiran. Jika terbalik, kita benci kepada muslim dan amat bergantung pada musuh-musuh Allah, tentu keadaan ini petanda iman kita sangat lemah.
Memurnikan loyalitas hanya kepada Alah, Rasul, dan orang-orang beriman adalah hal yang bisa menghidupkan iman di dalam hati kita.
17. Bersikap tawadhu
Rasulullah saw. bersabda, “Merendahkan diri termasuk bagian dari iman.” (Ibnu Majah no. 4118)
Rasulullah juga berkata, “Barangsiapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal dia mampu mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hati kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga dia diberi kebebasan memilih di antara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya.” (Tirmidzi no. 2481)
Maka tak heran jika baju yang dikenakan Abdurrahman bin Auf –sahabat yang kaya—tidak beda dengan yang dikenakan para budak yang dimilikinya.
18. Perbanyak amalan hati
Hati akan hidup jika ada rasa mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap bertemu dengan-Nya, berbaik sangka dan ridha dengan semua takdir yang ditetapkan-Nya. Hati juga akan penuh dengan iman jika diisi dengan perasaan syukur dan taubat kepada-Nya. Amalan-amalan hati seperti itu akan menghadirkan rasa khusyuk, zuhud, wara’, dan mawas diri. Inilah halawatul iman (manisnya iman)
19. Sering menghisab diri
Allah berfirman, “Hai orang-ornag yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)
Umar bin Khattab r.a. berwasiat, “Hisablah dirimu sekalian sebelum kamu dihisab.” Selagi waktu kita masih longgar, hitung-hitunglah bekal kita untuk hari akhirat. Apakah sudah cukup untuk mendapat ampunan dan surga dari Allah swt.? Sungguh ini sarana yang efektif untuk memperbaharui iman yang ada di dalam diri kita.
20. Berdoa kepada Allah agar diberi ketetapan iman
Perbanyaklah doa. Sebab, doa adalah kekuatan yang luar biasa yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. berwasiat, “Iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu bagaikan pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.”
Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada di dalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya dan upaya kami kecuali dengan pertolonganMu.

Disadur dari : http://www.dakwatuna.com/2008/04/18/523/20-cara-menguatkan-iman-anda

[+/-] Selengkapnya...

Penjualan Harta Karun

Hahaha.. penjualan harta karun ? Sepertinya banyak sekalee... Tapi jangan salah banyak atau sedikit itu adalah relatif. Meskipun 'hanya' 100 gram, harta karun inilah yang setia mengikuti kami sekeluarga.

Namun, sekarang kami harus berpisah. Ia harus pergi meninggalkan kami dan berpindah tangan ke 'atasan' saya. Meskipun dengan sedikit perbedaan tentang harga harta karun yang telah disepakati dengan harga sehari sebelumnya Namun karena harga hari ini lebih murah, si Bos jadi make harga terbaru.. hiks.. hiks.

It's Ok.. mungkin dengan harga tersebut Allah menyelamatkan saya untuk tidak menyakiti orang lain...

Ya Allah terima kasih atas harta yang telah Engkau titipkan kepada kami..semoga Engkau luaskan rezeki kami... dan menjadikan kami umatmu yang selalu besyukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan... amiin ya Robbal Alamin.

[+/-] Selengkapnya...

Musholla Impian

Alangkah mantabnya..jika tanah disebelah d ayana di buatkan musholla.. dibuat dengan fitur minimalis, pake ac..wangi...

Ya Allah..sampaikan hajat kami.

[+/-] Selengkapnya...

Hak dan Kewajiban dalam Islam (Jalan Menuju Keselamatan Dunia dan Akhirat)

Penulis: Hakimul Ummah Maulana Asyraf Ali Thanwi Rahmatullah alaih. Penerjemah: Aly Mahfuzhi Judul Indonesia: Hak dan Kewajiban dalam Islam (Jalan Menuju Keselamatan Dunia dan Akhirat) Pengantar Terjemahan Maulana Asyraf Ali Thanwi Rahmatullah alaih adalah sosok ulama’ yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mendidik umat melalui tulisan dan ceramahnya. Tidak ada satu cabang kehidupanpun yang tidak beliau kupas dengan bahasa yang mudah. Inilah ciri khas karya tulis beliau. Sehingga semua lapisan masyarakat bisa memahami isi kitabnya. Walaupun kitab ini ringkas, namun isinya sangat menyeluruh. Insya Allah kitab ini akan menjadi sebab hidayah bagi kaum muslimin. Sangat penting menyampaikan kitab ini ke setiap rumah orang islam. Semoga Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan taufik kepada kita untuk mengamalkan ajaran islam dengan benar. Amiin Aly Mahfuzhi Jakarta,22 Rabiul Awwal 1432 H./8 Maret 2010 M. 

MUKADIMAH
Bismillaahirrahmaanirrahiim Segala puji bagi Allah Azza Wajalla yang telah memuliakan kita di dalam kitab-Nya dengan firman-Nya”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apa bila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”(An Nisa’ 58). Shalawat dan salam semoga tetap tercurah ke atas Rasul-Nya, Baginda Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam, yang telah menyadarkan kita dengan sabdanya,”Barang siapa yang menzalimi saudaranya, baik dari segi kehormatannya atau hartanya, hendaknya ia meminta kepada saudaranya untuk menghalalkan pada hari ini, sebelum tiba waktu tidak ada dinar dan dirham, yakni hari keputusan.”. Juga, kesejahteraan semoga tercurah ke atas keluarganya dan shabat-sahabatnya yang telah menghubungkan setiap cabang kepada asal(pokok)nya. Secara dalil Naqli(syari’at) dan Aqli(rasional), telah jelas bahwa kita dituntut menunaikan beberapa hak. Sebagian hak berkaitan dengan Allah Subhanahu wata’ala, yang dinamakan Huququllah. Dan sebagian lainnya berkaitan dengan manusia, yang dinamakan Huququlibad. Adapun hak manusia terbagi menjadi dua; Hak dari segi agama, dan hak dari segi keduniaan. Kemudian, hak dari segi keduniaan terbagi menjadi beberapa macam; Yaitu hak kerabat, hak orang lain, hak orang tertentu, hak orang umum, hak orang yang lebih tua, hak orang yang lebih muda dan hak orang yang sederajat. Disebabkan kejahilan manusia tentang masalah ini, kebanyakan mereka tidak mengetahui hak-hak orang lain. Ada sebagian orang yang mengetahuinya, namun ia tidak menunaikannya karena kelakuannya yang buruk. Oleh karena itu, hatiku ingin menyusun sebuah kitab yang menjelaskan perkara ini. Saya berharap kitab ini bermanfaat. Karena Qadhi Tsanaullah telah menulis sebuah risalah mengenai perkara ini, yang diberinya judul Haqiqatul Islam, yang hamba berikan referensinya di dalam Furu’ul Iman dan kitab tersebut telah mengulas masalah ini secara menyeluruh, maka kami merasa cukup menuliskan ringkasannya saja. Akan tetapi, di sini kami tambahkan beberapa topik yang dianggap perlu. Sekarang, aku memulai dengan menyebut nama Allah subhanahu wata’ala. Risalah ini aku beri nama Huququl Islam. Risalah ini memuat beberapa pasal . Masing-masing pasal menerangkan satu hak.

HUQUQULLAH
Hak Allah Subhanahu wata’ala merupakan tanggung jawab pertama atas seorang hamba. Dia telah menciptakan dan mengekalkan berbagai macam nikmat untuk hamba-Nya, mengeluarkannya dari kesesatan menuju hidayah dan memberikan janji nikmat atas pengamalan hidayah tersebut. Hak-hak Allah Subhanahu wata’ala yang menjadi tanggung jawab hamba ialah; 1) Beritikad tentang Dzat dan sifat-Nya sesuai dengan Qur’an dan Hadits. 2) Memilih aqaid, amal, muamalah dan akhlak yang di ridai oleh-Nya dan meninggalkan apa yang tidak di sukai-Nya. 3) Mengutamakan keridhaan dan mahabbah kepada-Nya di atas keridhaan dan mahabbah kepada selain-Nya. 4) Mencintai, membenci, memberi dan tidak memberi karena-Nya.

HAK-HAK PARA NABI 
Kita dapat mengetahui Dzat dan sifatnya Allah Subhanahu wata’ala, perkara-perkara yang diridhai-Nya dan perkara-perkara yang tidak di sukai-Nya melalui para nabi Alaihis salam yang mendapat wahyu yang dibawa oleh para malaikat. Begitu juga, banyak manfaat dan mudarat duniawi yang kita ketahui dengan bertanya kepada nabi dan banyak pula malaikat yang ditugaskan untuk kemanfaatan kita. Mereka menjalankan tugasnya atas ijin Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, hak para nabi dan hak para malaikat termasuk di dalam hak Allah Subhanahu wata’ala. Terutama, kebaikan dan jasa pemimpin dua alam ialah jasa yang paling banyak, maka hak beliau atas kita paling besar. Hak-hak nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam ialah; 1) Meyakini kerasulannya. 2) Mentaatinya dalam seluruh hukum. 3) Mengucapkan ‘Shallallaahu alaihi wasallam’ jika namanya disebut. 4) dan membaca shalawat keatas Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam. Hak-hak para malaikat ialah; 1) Meyakini adanya malaikat. 2) Meyakini bahwa mereka bersih dari dosa. 3) Mengucapkan Alihissalam jika namanya disebut. 4) Masuk masjid setelah memakan makanan yang berbau tidak enak dan kentut di masjid menyakiti malaikat. Oleh karena itu, hendaknya berhati-hati dalam masalah ini. Hendaknya juga menghindari sesuatu yang menyakiti malaikat seperti meletakkan gambar, mengikat anjing tanpa ada keperluan syar’i, berbohong dan tidak segera mandi jinabat karena malas. 

HAK-HAK SAHABAT DAN AHLULBAIT 
Para sahabat dan ahlulbait Radhiyallahu ‘anhum mempunyai hubungan dengan Baginda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dari segi agama dan dunia, maka mereka mendapat hak sebagaimana Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam. Hak-hak mereka ialah; 1) Mentaati mereka. 2) Mencintai mereka. 3) Meyakini keadilan mereka. 4) Mencintai orang yang mencintai mereka dan membenci orang yang membenci mereka. 

HAK-HAK MASYAIKH DAN ULAMA’ 
Para ulama adalah pewaris dhahir dan batin Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam dan sanad(yang menyampaikan hadits dari)Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, hak mereka termasuk di dalam hak Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam. Hak-hak mereka ialah; 1) Selalu mendo’akan fuqaha’ mujtahidin, ulama’ muhadditsiin, ustadz dan masyaikh thariqah dan para penulis kitab-kitab agama. 2) Mengikuti mereka bila sesuai dengan syari’at. 3) Mencintai dan mengagungkan mereka yang masih hidup, tidak membenci dan menentangnya. 4) Membantu keuangan mereka sesuai dengan kelonggaran dan keperluan masing-masing. 

HAK-HAK KEDUA ORANG TUA
Orang-orang yang telah disebutkan di atas adalah para perantara kita dalam mendapatkan kenikmatan agama. Oleh karena itu, wajib bagi kita menunaikan hak-haknya. Ada sebagian orang yang menjadi perantara bagi kita dalam mendapatkan kenikmatan duniawi. Secara syar’i mereka juga punya hak atas kita. Seperti ayah dan ibu. Kita dilahirkan dan dibesarkan dengan perantaraan mereka. Hak-hak mereka ialah; 1) Jangan menyakiti mereka, walaupun mereka menzalimi kita. 2) Memuliakannya dengan ucapan dan kelakuan. 3) Mentaatinya dalam perkara yang dibolehkan syari’at. 4) Jika mereka memerlukan uang, berilah mereka walaupun mereka masih kafir. Hak –hak ibu bapak setelah wafatnya 1) Selalu mendo’akan maghfirah dan rahmat untuknya. 2) Memberikan bantuan berupa uang atau tenaga juga berakhlak bagus terhadap orang-orang yang pernah bergaul dengan mereka. 3) Melunasi hutang yang menjadi tanggungannya. 4) Menziarahi makamnya. 

HAK-HAK KAKEK DAN NENEK 
Kakek dan nenek secara syar’i, berkedudukan seperti ayah dan ibu. Maka anggaplah bahwa mereka mempunyai hak sama seperti ayah dan ibu. Begitu juga, paman itu berkedudukan seperti ayah dan bibi itu berkedudukan seperti ibu. Di dalam hadits ada riwayat yang menunjukkan hal itu. Seperti pertanyaan nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam,”Apakah kamu punya bibi?” Juga sabda beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam,”Alangkah baiknya, jika kamu memberikannya kepada paman-pamanmu.”Juga sabdanya,”Paman seseorang itu sama seperti ayahnya sendiri.”

HAK ANAK-ANAK 
Sebagaimana hak ayah dan ibu menjadi tanggung jawab anak, maka hak anak menjadi tanggung jawab ayah dan ibu. Hak-hak mereka ialah; 1) Menikah dengan wanita shalihah supaya keturunannya menjadi shalih. 2) Memeliharanya di masa kanak-kanak dengan kasih sayang, karena ada hadits yang menjelaskan keutamaan menyayangi anak. Khususnya, bila anaknya itu perempuan, jangan sampai hati ini merasa sempit. Memelihara dan merawatnya mengandungi keutamaan yang besar. Bila ingin menyusukan anak kepada orang lain, carilah wanita yang tinggi budi pekertinya dan bagus agamanya. Sebab, air susu itu mempengaruhi akhlak anak. 3) Mengajarkan ilmu agama dan adab kepadanya. 4) Menikahkannya bila sudah layak untuk menikah. Bila suami anak perempuan meninggal dunia, maka ajaklah ia untuk tinggal di rumah Anda sampai ia menikah lagi dan tanggunglah semua keperluannya. 

HAK-HAK WANITA YANG MENYUSUI 
Wanita yang menyusui kita sama seperti ibu kita. Hak-hak mereka; 1) Berlaku adab dan menghormatinya. 2) Bila dia memerlukan uang dan kita ada kelonggaran, kita jangan menahan pemberian kepadanya. 3) Jika mampu, belilah seorang hamba sahaya laki-laki atau perempuan dan berikan kepadanya sebagai pelayannya. 4) Karena suaminya itu makhdum (orang yang dilayani) wanita yang menyusui kita, dan wanita yang menyusui ini makhdum kita, maka hendaknya kita berbuat baik kepada suaminya dengan anggapan bahwa dia adalah makhdum dari makhdum kita. 

HAK-HAK IBU TIRI 
Karena ibu tiri itu teman hidup ayah dan telah datang perintah kepada kita untuk berbuat baik kepada teman-teman ayah, maka ibu tiripun mempunyai beberapa hak yang merupakan hak-hak teman ayah setelah wafatnya. 

HAK-HAK SAUDARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN. 
 Di dalam hadits disebutkan bahwa saudara yang lebih tua itu seperti ayah. Oleh karena itu, saudara yang lebih muda itu seperti anak. Maka, hak dan kewajiban di antara keduanya adalah seperti hak dan kewajiban antara orang tua dan anak. Begitu juga sama ratakanlah antara hak dan kewajiban saudara perempuan yang lebih tua dan yang lebih muda. 

HAK-HAK KERABAT. 
Kerabat lainnya juga punya hak. Ringkasnya, hak-hak mereka ialah; 1) Apabila mahramnya miskin dan tidak ada kemampuan mencari nafkah, maka wajib kita memberikan nafkah yang mencukupi kepadanya, seperti anak sendiri. Adapun kepada mahram lainnya memang tidak wajib namun penting bagi kita berkhidmat sedikit kepadanya. 2) Berkunjung kepadanya secara berkala. 3) Jangan memutuskan hubungan kekerabatan dengannya. Bahkan, apa bila kita mendapatkan kesusahan darinya pun, maka bersabar adalah lebih utama. 4) Apabila ada kerabat yang menjadi budak dan jatuh ke tangannya,hendaknya langsung dimerdekakan.

HAK-HAK USTADZ DAN MURSYID THARIQAH 
Ustadz dan mursyid adalah seperti ayah dalam hal mentarbiyah batin kita. Oleh karena itu, hendaknya kita memperlakukan anak-anak dan kerabat mereka seperti ibu ayah dan kerabat kita sendiri. Dan ini juga merupakan salah satu tafsir ayat”Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.(Asy Syuraa:23)Dari maqam itu, hendaknya kita mengetahui akan kedudukan mereka, sehingga kita akan memuliakan mereka. Dan karena murid itu seperti anak bagi ustadz atau mursyid, maka semua murid itu seperti anak-anak dari satu ayah, jadi hak dan kewajiban di antara mereka ialah sama seperti hak dan kewajiban di antara saudara kandung seperti yang sudah diutarakan di atas. Di dalam Al Qur’An, surah An Nisa’, ayat 36 ada lafal “Wash shaahibi biljanbi”, maka hak teman juga masuk ke dalam hak sesama saudara. 

HAK-HAK MURID 
Karena murid itu seperti anak, maka hak mereka sama dengan hak anak kita dalam hal dikasihi dan dihibur.

HAK-HAK SUAMI ISTRI 
 Dalam hak suami istri, tanggung jawab suami ialah; 1) Jangan menahan nafkah sesuai dengan kemampuan. 2) Mengajarkan masalah agama kepada istri dan selalu mendorongnya untuk beramal saleh. 3) Terkadang, ijinkan dia berkunjung kepada mahramnya. Bersabar dan diam atas sedikit kepahamannya. Bila diperlukan untuk mengajarkan adab, maka hendaknya dipilih jalan tengah. Dan kewajibah istri ialah; 1) Mentaati suami, beradab kepadanya, berkhidmat, menghibur dan berusaha mencari keridhaannya. Adapun dalam hal yang bertentangan dengan syari’at, ia tidak boleh menaatinya. 2) Jangan menuntut sesuatu yang di luar kemampuannya. 3) Jangan membelanjakan hartanya tanpa seijinnya. 4) Jangan bersikap keras dan kasar terhadap kerabat suami yang menyebabkan suami susah. Terutama ibu bapak suami. Mereka hendaknya diperlakukan dengan adab dan ta’zim. 

HAK-HAK HAKIM DAN MAHKUM (RAKYAT ATAU BAWAHAN) 
Yang termasuk hakim ialah raja, wakil raja, tuan dan lain sebagainya. Dan yang termasuk mahkum ialah rakyat, pembantu dan pelayan dan lain sebagainya. Begitu juga malik (tuan) dan mamluk (budak). Tanggung jawab hakim ialah; 1) Jangan memberlakukan hukum yang sulit bagi mahkum. 2) Apabila ada perselisihan di antara mahkum hendaknya ia memutuskannya dengan adil. Jangan membela pihak manapun. 3) Selalu memikirkan keselamatan dan ketenangan mahkum dalam segala hal. Tentukan cara yang mudah bagi lansia untuk bertemu dengannya. 4) Apabila ada yang teledor atau berbuat kesalahan terhadap dirinya hendaknya ia memaafkannya. Tanggung jawab mahkum ialah; 1) Mentaati dan menginginkan kebaikan untuk hakim. Adapun dalam perkara yang bertentangan dengan syari’at, tidak ada ketaatan kepadanya. 2) Apabila ada suatu keputusan hakim yang bertentangan dengan tabiatnya, hendaknya diterima dengan sabar, jangan mengadu dan berdo’a buruk untuk mereka. Kita do’akan saja agar hatinya menjadi lembut, sementara kita sendiri terus taat kepada Allah Subhanahu wata’ala supaya Allah Subhanahu wata’ala sendiri yang melembutkan hati penguasa. Perkara ini telah disebutkan di dalam sebuah hadits. 3) Apabila kita menerima kesejahteraan dari penguasa, maka hendaknya kita mensyukurinya dengan membalas kebaikannya. 4) Jangan menentangnya hanya untuk menuruti hawa nafsu. Apabila seseorang memiliki hamba sahaya, maka menjadi kewajibannya untuk memberinya nafkah, dan haram bagi hamba sahaya lari dari tuannya dan tidak mau berkhidmat kepadanya. 

HAK-HAK KERABAT MERTUA 
Di dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan hak hubungan nasab bersamaan dengan kerabat dari hubungan pernikahan. Dari itu, kita mengetahui akan kedudukan mertua laki-laki, mertua perempuan, saudara ipar, saudari ipar, menantu dan anak tiri. Oleh karena itu, hendaknya kita menjaga hak-hak mereka dengan berbuat baik dan menjaga akhlak terhadap mereka. 

HAK-HAK ORANG ISLAM SECARA UMUM. Di samping ahli kerabat, orang islam umum pun punya hak atas kita. Isbahani Rahmatullah ‘alaih meriawayatkan di dalam kitab At Targhib wat Tarhib dari Sayyidina Ali Karramallaahu wajhahu hak-hak orang islam secara umum; 1) Memaafkan kelemahan/kesalahan saudara muslim. 2) Menyayanginya ketika menangis. 3) Menutupi aibnya. 4) Menerima alasannya. 5) Menghilangkan kesusahannya. 6) Selalu menginginkan kebaikannya. 7) Melindungi dan mencintainya. 8) Memperhatikan tanggung jawabnya. 9) Menjenguknya ketika sakit. 10) Menghantar jenazahnya. 11) Menghadiri undangannya. 12) Menerima hadiahnya. 13) Membalas kebaikannya. 14) Mensyukuri kenikmatan yang datang darinya. 15) Menolongnya pada saat ia memerlukan. 16) Melindungi keluarga dan familinya. 17) Menyempurnakan hajatnya. 18) Mendengarkan permohonannya. 19) Menerima pembelaannya. 20) Jangan menjadikan ia putus asa dari keinginannya. 21) Bila ia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah, ucapkanlah Yarhamukallaah. 22) Mengembalikan barangnya yang hilang yang kita temukan. 23) Menjawab salamnya. 24) Berbicara kepadanya dengan lemah lembut dan akhlak yang baik. 25) Berbuat baik dengannya. 26) Menyempurnakan sumpahnya. 27) Menolongnya bila ada yang berbuat aniaya kepadanya. Apabila ada yang berbuat aniaya terhadapnya, maka cegahlah. 28) Mencintainya, jangan bermusuhan dengannya. 29) Jangan menghinakannya. 30) Apa saja yang kita sukai untuk diri kita, maka kita sukai untuknya juga. Di dalam riwayat lainnya ada tambahan; 31)Ketika bertemu, ucapkanlah salam. Bila disertai jabat tangan, itu lebih baik. 32) Bila ada perselisihan di antara kita dengannya, maka jangan mendiamkannya lebih dari tiga hari. 33) Jangan bersangka buruk kepadanya. 34) Jangan iri hati dan dengki kepadanya. 35) Beramar ma’ruf dan nahi munkar bila memungkinkan. 36) Menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua. 37) Bila ada perselisihan di antara dua orang, damaikanlah keduanya. 38) Jangan menggunjingnya. 39) Jangan merugikannya dalam bentuk apapun, baik hartanya maupun harga dirinya. 40) Apabila saudara muslim tidak bisa naik kendaraan atau tidak bisa mengambil alat untuk naik, maka ambilkanlah alat untuk naik. 41) Jangan membangunkannya dari tempat duduknya dan kita duduki tempat itu. 42) Jangan berbicara berduaan sedangkan di situ ada orang ketiga. Hendaknya diingat bahwa orang-orang yang memiliki hubungan khusus dengan kita, di samping hak-hak mereka yang khusus, mereka juga memiliki hak umum di atas. 

HAK–HAK TETANGGA 
Orang yang memiliki status lebih dari lainnya, maka ia mempunyai hak lebih. Misalnya tetangga. Mereka memiliki hak yang di antaranya ialah; 1) Berbuat baik dan memperhatikannya. 2) Menjaga keluarganya. 3) Terkadang-kadang mengirim hadiah ke rumahnya. 4) Jangan menyakitinya. Jangan bertengkar dengannya dalam perkara-perkara yang remeh. Syari’at telah menentukan hak syuf’ah untuk menghilangkan kesusahan tetangga. Ulama’ menulis bahwa sebagaimana tetangga di kampung punya hak, begitu juga tetangga dalam perjalanan, yakni teman perjalanan punya hak. Di dalam hadits disebutkan bahwa tetangga ada dua macam; Jar Maqam dan Jar Badiyah. Hak Jar Badiyah sama dengan hak Jar Maqam. Secara ringkas, hak tetangga ialah lebih mendahulukan kesenangan tetangga atas kesenangan sendiri. Sebagian orang, dalam perjalanannya dengan kereta api, berbuat buruk kepada sesama musafir. Itu perbuatan yang tidak terpuji.

HAK–HAK ANAK YATIM DAN ORANG LEMAH 
Begitu juga, orang yang bergantung kepada orang lain, seperti anak yatim, janda, orang lemah, orang miskin, orang sakit, orang cacat, musafir atau peminta-minta memiliki hak lebih. Yaitu ; 1) Berkhidmat dengan harta kepada mereka. 2) Menyelesaikan pekerjaan mereka dengan tangan kita sendiri. 3) Menghibur dan membesarkan hati mereka. 4) Jangan menolak hajat dan permintaan mereka. 

HAK-HAK TAMU 
Tamu memiliki hak sebagai berikut; 1) Menyambutnya dengan ceria. Ketika tamu mau pulang, minimal mengantarnya sampai pintu rumah. 2) Menyempurnakan keperluan dan ma’mulat nya sehingga ia mendapatkan kerehatan. 3) Berkelakuan tawadhu’, memuliakan dan rendah hati di hadapannya. Bahkan melayaninya dengan tangannya sendiri. 4) Minimal menjamunya makan dengan sedikit istimewa satu hari, kemudian menjamunya dengan makanan yang biasa kita makan sehari-hari selama tiga hari. Ini merupakan hak tamu yang terpenting. Setelah itu, apabila tamu masih tinggal di situ, maka terserah tuan rumah untuk berbuat baik kepadanya. Akan tetapi, tamu hendaknya tahu diri untuk tidak merepotkan tuan rumah. Jangan tinggal di tempat tuan rumah terlalu lama dan jangan mengajukan permintaan yang macam-macam dan jangan mencampuri urusan makanan, waktunya dan pelayanannya. 

HAK-HAK TEMAN 
Di dalam Al Qur’an, teman dekat disebutkan bersamaan dengan kerabat dan mahram. Adab dan hak-haknya ialah; 1) Orang yang kita pilih untuk dijadikan teman hendaknya dilihat dulu akidahnya, amalannya, muamalahnya dan akhlaknya. Apabila ia lurus dalam semua hal tersebut, bertemanlah dengannya. Jika tidak, menjauhlah darinya. Ada riwayat yang menekankan agar menjauhi persahabatan yang buruk. Hal itu bisa dirasakan di dalam kehidupan sehari-hari. 2) Jangan bakhil kepadanya dalam hal diri dan harta. 3) Apabila ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tabiat kita, hendaknya kita memaafkannya. Apabila kebetulan ada permasalahan dengannya, hendaklah segera dibereskan, jangan dipanjang lebarkan. Mengadukan teman kepada orang lain itu tidak pernah kosong dari kelezatan. Akan tetapi, jangan dikerjakan. 4) Jangan teledor dalam berbuat baik kepadanya dan jangan menyembunyikan usulan yang bagus untuknya. Dengarkanlah usulannya dengan niat yang baik. Apabila patut untuk diamalkan, terimalah usulannya. Anak angkat hukumnya seperti teman dekat, bukan seperti anak sendiri. Oleh karena itu, tidak ada bagian warisan untuk mereka. 

HAK-HAK ORANG NON MUSLIM 
Sebagaimana hubungan kekerabatan atau hubungan persaudaraan seislam itu menyebabkan adanya hak di antara mereka, begitu juga hubungan antara sesama manusia juga menyebabkan adanya hak di antara mereka. Yakni, hanya dengan wujudnya seseorang sebagai manusia, dia memiliki hak atas kita, walaupun dia bukan orang islam. Hak-haknya ialah; 1) Jangan menyakiti badannya atau hartanya tanpa ia berbuat salah. 2) Jangan berkata jelek dengan mereka tanpa alasan syar’i. 3) Membantu mereka apabila kita melihat mereka dalam musibah, kelaparan dan sakit. Memberinya makan dan air dan mengantar mereka berobat, ketika mereka sakit. 4) Dalam hal yang diijinkan syari’at untuk menghukumnya pun jangan melampaui batas. Jangan menyiksanya. 

HAK-HAK HEWAN
1) Jangan mengurung hewan tanpa tujuan yang pasti, khususnya hanya mengambil anaknya dan membuat kedua induknya sedih. Ini adalah tindakan yang menunjukkan kita tidak punya belas kasih kepadanya. 2) Jangan membunuh hewan yang bisa diambil manfaatnya hanya untuk memuaskan hobinya. Banyak orang yang suka berburu yang terjerumus dalam hal ini. 3) Hewan yang bekerja untuk kita hendaknya diperhatikan makanannya, minumannya dan istirahatnya. Jangan mempekerjakannya melebihi kekuatannya. Jangan memukulnya melebihi batasan. 4) Jika kita akan menyembelih atau membunuh seekor hewan karena ia menyakiti manusia, hendaklah menggunakan alat yang tajam dan di percepat. Jangan menyiksanya dan membiarkannya lapar dan dahaga terlebih dahulu .

HAK YANG DI WAJIBKAN OLEH MANUSIA ATAS DIRINYA SENDIRI 
Hak-hak yang telah disebutkan di atas adalah hak semula jadi. Di samping itu, ada pula hak yang menjadi wajib karena diwajibkan oleh manusia sendiri. Di antaranya ialah hak Allah Subhanahu wata’ala yang terbagi menjadi tiga macam; Pertama; hak yang disebabkan ketaatan, yang disebut dengan nadzar. Apabila seseorang bernadzar untuk mengerjakan ibadah maqsudah, ia wajib menyempurnakannya. Apabila ibadahnya bukan maqsudah, maka menyempurnakannya adalah mustahab. Apabila yang dinadzarkan itu perkara mubah, maka nadzarnya menjadi lagha(sia-sia). Jika yang dinadzarkan adalah suatu maksiat, maka haram menyempurnakannya. Sedangkan bernadzar dengan selain Allah Subhanahu wata’ala adalah hampir kepada kesyirikaan. Kedua; hak yang disebabkan oleh perkara mubah. Misalnya, kafarah sumpah mubah dan menqadha puasa ramadhan bagi musafir atau orang sakit. Hak-hak tersebut wajib di tunaikan. Ketiga; hak yang disebabkan oleh maksiat. Misalnya, hudud dan kafarah yang menjadi wajib karena tidak berpuasa tanpa udzur syar’i, atau membunuh tanpa sengaja atau karena zhihar. Hak-hak di atas juga wajib ditunaikan. Di antara hak yang diwajibkan oleh manusia atas dirinya sendiri, ada yang berhubungan dengan hak sesama manusia. Hak ini juga terbagi dalam tiga macam; Pertama; hak yang disebabkan oleh ketaatan, seperti menunaikan janji. Hal ini sangat penting, karena teledor dalam masalah ini merupakan tanda kemunafikan. Kedua; hak yang disebabkan perkara mubah. Misalnya, hutang dan yang sejenis dengannya, seperti menyerahkan barang dagangan yang sudah dibeli, seorang wanita yang telah dinikahi menyerahkan dirinya kepada suami, menyerahkan barang pesanan, membayar barang yang telah dibeli, membayar mahar, membayar upah pekerja, mengembalikan barang pinjaman dan amanah. Semua ini adalah wajib untuk ditunaikan. Ketiga; hak yang disebabkan oleh kemaksiatan. Seperti membunuh, merampok, mencuri dan berkhianat terhadap harta orang lain atau menghinakan martabat seseorang. Meminta kepada yang punya hak agar semua itu dimaafkan baik secara langsung dengan lisan atau dari jarak jauh ialah wajib. Jika tidak, besok di akhirat harus diganti dengan ibadah atau harus menerima adzab.

PENUTUP 
Apabila kita menanggung hak Allah Subhanahu wata’ala, maka jika hak itu berupa ibadah, hendaknya ditunaikan. Misalnya shalat, puasa, zakat dsb. Hendaknya semua itu dihitung dan kemudian ditunaikan. Apabila hak itu berkaitan dengan harta, maka kapan saja ia mendapatkan kelapangan, janganlah menunda-nunda untuk mengembalikannya. Apabila hak itu berupa maksiat, segera bertaubatlah kepada-Nya. InsyaAllah, semuanya akan dimaafkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Apabila hak itu adalah huququl ibad dan bisa ditunaikan, hendaknya segera ditunaikan. Jika tidak bisa dibayar dengan uang, seperti menggunjing, maka memintalah maaf kepadanya. Apabila karena suatu sebab, sehingga kita tidak bisa menunaikan hak tersebut dan tidak bisa meminta maaf, maka selalu beristighfar dan berdo’alah untuk orang yang punya hak itu. Bukan perkara mustahil bila besok pada hari kiamat Allah Subhanahu wata’ala akan menjadikan mereka ridha dan memaafkan haknya. Akan tetapi, jika kita mampu menunaikannya atau meminta maaf, janganlah segan-segan untuk melakukannya. Selanjutnya, apabila kita punya hak atas orang lain, hendaknya kita meminta hak tersebut dengan lemah lembut, jika kita tahu mampu menagihnya. Akan tetapi, jika kita mengetahui tidak akan bisa menagihnya, hendaknya kita memaafkannya. Walaupun kita bisa menuntutnya besok pada hari kiamat, namun memaafkan itu sangat besar keutamaannya. Oleh karena itu, memaafkannya adalah sangat baik. Terutama, apabila orang yang mempunyai kewajiban itu memohon ampun dan maaf kepada kita. Waakhiru da’waanaa anil hamdulillaahi rabbil Aalamiin. 

Diambil dari : http://totosmg.wordpress.com/tata-cara-hidup-dan-dagang/maksud-hidup-umat-akhir-zaman/

[+/-] Selengkapnya...

Haji

Mengapa setiap kali aku mengingatnya. Aku selalu ingin menangis. Mengapa air mata ini selalu berurai jika kukenang masa-masa ditanah suci Mu. Pertanda apakah ini..? Ya Allah... Allahumma inni kuntu minaz zholimin. Robbana zholamna anfusana wa inlam taghfirlana watarhamna lanaku nna minal khosyirin. Ampuni hamba ya Allah... astaghfirullah..

[+/-] Selengkapnya...

Ia Mengujimu Karena Ia Mencintaimu

Ujian merupakan bukti cinta Allah kepadamu. Ada beberapa petikan yang saya peroleh dari sebuah buku saku karya DR. Khalid, yang intinya adalah sebagai berikut :

  1. Ia mengujimu untuk mengangkat derajatmu di surga karena Ia mencintaimu
  2. Ia mengujimu agar kamu sadar dari kelalaian jiwamu dan agar bangun dari gelimangan dosamu karena Ia mencintaimu
  3. Ia mengujimu untuk menghapus kesalahanmu yang dapat memasukkanmu ke neraka, karena Ia mencintaimu.
  4. Ia mengujimu agar kamu mengetahui kadar nikmat-Nya, sehingga kamu dapat mensyukurinya, dan ini juga karena Ia mencintaimu
  5. Ia mengujimu agar kamu mengetahui nilai dunia dan hakikatnya, sehingga kamu memandang akhirat, ini karena Ia mencintaimu
  6. Ia mengujimu supaya kamu ridha kepada Allah SWT, sehingga kamu berhak mendapatkan ridho dari-Nya. Hal ini juga karena Ia mencintaimu
  7. Ia mengujimu agar kamu merasa rendah dihadapan-Nya, sehingga kamu berdoa dimalam hari, maka Ia pun mengabulkan permohonan doamu dengan segera, serta mengganti satu nikmat dengan yang telah hilang  dengan nikmat lain yang berlimpah
  8. Ia mengujimu agar kamu masuk surga dari pintunya yang sangat luas dan jalan yang sangat mudah

“... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”  (Az-zumar : 10)

[+/-] Selengkapnya...

3 Cara Mengatasi Kecemasan Berlebihan

 

Anda Harus Mengatasi Kecemasan Berlebih Agar Tidak Menyia-nyiakan Energi Anda

Ya, kita harus segera mengatasi kecemasan berlebihan kita, karena kecemasan berlebihan akan menghabiskan energi kita. Energi kita habis, sementara tidak ada hasil yang bisa kita dapatkan. Meski pun kita diam, menggerutu, marah-marah, dan sebagainya akan membuat mental kita lelah, dan tidak ada energi untuk hal lain yang positif.

Kecemasan Berlebihan Juga Membuang Waktu

Saat hidup Anda dihabiskan untuk kecemasan berlebihan, maka waktu Anda akan terlewat saja tanpa makna, tanpa hasil, dan tanpa prestasi. Hidup Anda hanya dihabiskan untuk memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Padahal, waktu bisa digunakan untuk hal lain yang lebih berarti.
Anda bisa melakukan tindakan untuk mengantisipasi apa yang Anda khawatirkan. Jika ada cemas akan kehilangan uang, mengapa Anda tidak mengantisipasi agar resiko kehilangan uang itu berkurang. Atau antispasi jika benar-benar Anda kehilangan uang. Ini jauh lebih baik dibandingkan Anda hanya mengkhawatirkan saja tanpa bertindak.

Kecemasan Ibarat Virus Mental Yang Bisa Menyebar

Perasaan cemas berlebihan akan menjadi virus mental, yang gejalanya akan menyebar ke seluruh aspek kehidupan Anda. Untuk kesehatan mental tidak baik, Anda akan menjadi pribadi yang pesimis, apatis, penakut, dan malas. Juga saya sering membaca berbagai artikel yang mengatakan kondisi mental yang negatif bisa merusak kesehatan fisik juga.
Kecemasan berlebihan bisa merusak relasi, dimana mental Anda negatif, Anda kehilangan antusias, dan perangai Anda menjadi tidak baik. Ingat, Anda sibuk dengan pribadi Anda, begitu juga orang lain akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Saat ada yang tidak beres dari Anda, bisa jadi mereka menjauh dan fokus pada urusan mereka. Anda bisa dianggap menjadi “pengganggu”.

Kabar Gembira, Ada Solusinya!

Jika Anda mengalami masalah ini, yaitu merasakan kecemasan berlebihan, silahkan coba praktekan tip-tip dibawah ini.

Hujamkan Dalam Hati: Apa Pun Yang Terjadi, Itu Terbaik Bagi Saya

Satu ayat yang langsung menghilangkan kehawatiran saya adalah:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS Al Baqarah: 216)

Bisa jadi, kita memang tidak suka dengan rasanya, padahal itu yang terbaik bagi kita. Sebagai contoh kehilangan uang memang pahit, apalagi dalam jumlah yang besar. Kita tidak suka, padahal bisa jadi Allah sudah punya rencana yang lebih baik dibalik kehilangan uang tersebut. Kita hanya tidak mengetahui dan tidak menyadarinya. Kadang, kesadaran akan manfaatnya kita ketahui belakangan.
Masalahnya banyak orang yang menolak ini. Mereka lebih memilih mendapatkan keinginan dia (hawa nafsu) ketimbang pilihan Allah yang pastinya jauh lebih baik. Ini tentang keimanan, apakah Anda yakin Allah memberikan yang terbaik atau tidak. Jika yakin, maka insya Allah, kecemasan itu akan hilang.

Tawakal Kepada Allah

Terlepas ada yang bisa dilakukan atau tidak, tawakal akan mengurangi kecemasan. Kita yakin, bahwa apa yang akan terjadi adalah ketentuan Allah dan Allah pasti memberikan yang terbaik bagi kita. Untuk itu, serahkan semuanya kepada Allah, mintalah bantuan, pertolongam, dan bimbingan Allah agar kita menemukan solusi, mampu menghadapi yang kita cemaskan, dan lebih baik lagi jika terhindar dari apa yang kita cemaskan.
Silahkan baca Bulatkan Tekad Dan Bertawakallah. Bulatkan tekad untuk menghadapi apa yang Anda di depan Anda, dan bertawakallah kepada Allah. Insya Allah Anda akan sanggup.

Cari Pilihan Ikhtiar Yang Optimal

Saat Anda merasa panik karena kecemasan berlebihan, sering kali pikiran menjadi buntu. Kita tidak bisa memikirkan apa yang harus kita lakukan. Paling gawat saat kita memilih solusi jalan pintas yang akan disesali bahkan tidak sesuai dengan ajaran agama. Dengan dua sikap diatas, yaitu yakin bahwa Allah akan memberikan terbaik dan kita menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, in sya Allah kita akan lebih tenang dan bisa berpikir lebih jernis.
Kemampuan Anda berpikir jernih, akan membuka jalan untuk menemukan solusi terbaik. Ada beberapa kemungkinan solusi, jangan paksakan dengan 1 solusinya saja. Kebanyakan orang yang cemas, dia hanya ingin apa yang dia cemaskan hilang. Itu mungkin solusi terbaik, tapi bukan hanya itu solusi yang bisa kita dapatkan.
Jika tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan akibat buruk yang kita cemaskan, maka pikirkan antisipasinya. Jika itu benar-benar terjadi, apa tindakan terbaik yang bisa kita lakukan? Bisakah dilakukan sekarang agar akibat buruknya berkurang? Jika bisa, maka lakukan itu sekarang.
Jika tidak bisa dilakukan sekarang, ya sudah, mau apa lagi? Khawatir tidak ada gunanya bahkan memperburuk keadaan. Tugas Anda berdo’a, yakin dengan ketetapan Allah, dan bertawakal. Apakah tidak perlu ikhtiar? Selalu ada ikhtiar yang bisa kita lakukan.
Mungkin, kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menghindar dan mengatisipasi yang kita cemaskan, namun Anda bisa menjadikan diri Anda menjadi lebih baik, sehingga lebih siap menghadapi kondisi apa pun. Bukankah ini lebih baik dibandingkan hanya cemas?

Disadur dari : http://www.motivasi-islami.com/cara-mengatasi-kecemasan-berlebihan/

 

[+/-] Selengkapnya...

Tips Menghadapi Mutasi

Kamis, 30 Mei 2013 merupakan hari yang istimewa dan bersejarah bagi saya. Suatu hari dimana saya dikhabarkan untuk keluar dari comfort zone (zona nyaman) mulai tanggal 27 Juni 2013. 17 tahun saya sudah bekerja di kota kelahiran saya, dengan penuh suka cita, bisa berkumpul dengan keluarga, bisa ketemu dengan orang tua, saudara dan kesenangan-kesenangan lainnya. Sekarang, saya dimutasi ke Ibukota Jakarta. Namun, saya yakin dan percaya bahwa semua adalah ketetapan-Nya, dan pastilah ini adalah jalan yang terbaik. So.. sekarang saya harus mempersiapkan diri untuk menjemput nikmatnya yang lebih baik dari sekarang...

Ada beberapa tips yang saya dapatkan dalam rangka mutasi...

1. Ikhlas dan semangat
Tidak semua orang bisa menerima dengan lapang adanya mutasi. Apalagi jika kita ditempatkan di tempat yang jauh dan asing. Persiapan mental adalah fondasi utama untuk menghadapi hari hari baru di tempat yang baru. Mungkin tidak selamanya mudah, tapi sebaiknya kita berfikir positif tentang keputusan mutasi ini. Yang Diatas pasti sdh merencanakan yang terbaik untuk kita. Siapa tahu disana ada penghidupan dan kesempatan yang lebih baik. Pengalaman baru, lingkungan baru, teman2 baru dan bagi yang belum berkeluarga, mungkin saja siapa tahu jodoh anda ada di tempat yang baru.

2. Cari tahu gambaran pekerjaan baru anda
Sesaat setelah anda menerima kepastian SK Mutasi anda, sebaiknya anda bisa langsung bertanya ke rekan2 anda tentang pekerjaan baru yang nantinya akan anda geluti. Atau keteman di kota lama anda yang memiliki bagian sama dengan anda. Baik tentang gambaran umum, jobdesc maupun kendala yang sering dihadapi. Dengan mengetahui hal ini, sedikit banyak bisa mengurangi kegugupan anda saat datang di tempat kerja anda yang baru.

3. Kenali lingkungan pekerjaan anda
Saat pertama kali datang salami semua org yang ada disana. Bagaimanapun tingginya jabatan anda di kantor sebelumnya, saat ini anda adalah org baru. Jadi anda yang harus ’kulonuwun’ dan aktif berkenalan dengan orang2 di kantor baru anda.

4. Menghadap atasan baru
Mungkin terselip rasa grogi takut tapi itu wajar. Percayalah dan positif thinking bahwa atasan anda akan menghargai anda. Utarakan maksud kedatangan anda dan antusiasme anda untuk bergabung di departemen yang baru. Jika anda ditanya tentang pekerjaan anda sebelumnya, jangan ragu untuk menjawab dengan detail sehingga atasan anda akan tahu dimana kebiasaan, potensi dan kelebihan anda. Pun ketika anda ditanya ttg gambaran pekerjaan di dept baru, anda tdk kesulitan krn sdh mencari info sebelumnya.

5. Kenali rekan sekerja anda
Ini penting sekali krn nantinya sehari2 anda akan selalu berurusan dengan mereka. Tentang jobdesc, kebiasaan atasan, budaya kantor, dan bahkan untuk hal2 diluar pekerjaan seperti info kost, t4 makan dll. Jangan pernah membandingkan dengan sahabat dan rekan kerja anda di kantor lama. Karena semua pasti berbeda. Dan tentunya anda pasti butuh waktu untuk ’klik’ dengan rekan kerja anda. Bukankah ke’klik’an anda dgn sahabat2 anda dikantor lama juga tdk langsung sim salabim kan.. Syukur2 kalo lgsg dapat rekan yang klik, kalo tidak ya sebaiknya bersabar sebentar..

6. Cari tempat tinggal yang nyaman
Jika anda masih lajang, sebaiknya pilih kost yang benar2 nyaman. Berbagai faktor perlu dipertimbangkan spt jarak dr kantor, fasilitas, jarak dengan t4 makan dsb. Tempat tinggal ini sangat penting krn jikalau anda blm betah di kantor baru ataupun stress dgn tumpukan pekerjaan, anda bisa segera pulang ke kost yg nyaman. Jika kost tdk nyaman, tingkat stress bisa 2 kali lipat tentunya .
Untuk yg sdh berkeluarga, rmh kontrakan bisa jd alternatif tepat. Dgn dukungan anak istri tentunya proses mutasi bisa berjalan lbh smooth..

7. Cari teman sebanyak banyaknya
Anda bisa menginfokan ke akun sosial anda bahwa anda pindah ke kota X. Mungkin saja diantara teman2 anda ada yg ternyata tinggal di kota tsb. Mgkn teman lama di kampus, smu, smp bahkan sd. Kalaupun anda punya komunitas hobby akan lebih baik lagi. Misal komunitas travelling, fotografi, sepeda dll. Biasanya member2 komunitas sangat welcome membantu member lain yang baru pindah ke kotanya. Dengan banyak teman akan banyak memudahkan kita di kota yang baru.

8. Berkeliling kota
Disaat anda memiliki waktu luang, sebaiknya anda sempatkan untuk mengelilingi kota baru anda. Anda bisa meminta bantuan teman terdekat ataupun kalaupun anda masih benar2 baru, anda bisa berkeliling sendiri. Jangan malu bertanya. Toh ini di indonesia, akan sgt bnyk org2 yg bisa ditanyai jika anda tersesat (tp tetap waspada tentunya). Paling tidak anda tahu dimana tempat beli keperluan anda sehari2, tempat membeli buku buku favorit anda, tempat2 hiburan atau mall untuk mencari barang2 yang anda pelukan.


Selain itu, ada juga tips lainnya yang tidak kalah baiknya....

1. Persiapkan diri sebaik mungkin sebelum masuk ke tempat baru.
Jangan lupa mencari info selengkap-lengkapnya tentang pekerjaan yang baru. Peraturan, kebiasaan, teman kerja, jam kerja, atasan, job description dan lain-lain

2. Tunjukkan sikap positif.
Sebaiknya anda tidak berpikir dan bersikap negatif. Mutasi dilakukan untuk mengoptimalkan kinerja di perusahaan karena itu ikut saja seperti air mengalir sambil terus belajar untuk menjadi lebih baik.

3. Ikuti kebiasaan di tempat yang baru.
Tempat yang baru selalu membutuhkan adaptasi yang baru. Terkadang ini tidak mudah, yang anda perlukan adalah kebiasaan untuk ikut membaur bersama karyawan yang lain. Setidaknya dalam sebulan saja anda sudah terbiasa dengan tempat kerja yang baru.

4. Tidak memaksa menjadi pribadi yang sempurna
Perhatikanlah setiap kemajuan-kemajuan kecil yang telah anda raih ditempat yang baru. Jadikan itu sebagai penyemangat untuk maju dari pada anda menunggu sebuah lompatan yang besar tapi tidak pernah terlaksana.

5. Nikmati pertemuan dengan orang-orang baru.
Sebaiknya jangan percaya pada gossip yang beredar di lingkungan baru, biasakan diri untuk menjadi pribadi yang netral, tidak memihak pada salah satu kubu di lingkungan Anda. Hal ini memudahkan Anda untuk cepat diterima di lingkungan baru.

6. Jadikan pribadi yang memang bisa diandalkan
Bekerjalah sesuai aturan dan schedule yang telah di tetapkan. Tunjukkan keseriusan dan keterampilan anda semaksimal mungkin. Talk Less Do More


Akhirnya, dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim.. saya katakan... Jakarta,.. Tunggu saya..!!!!






[+/-] Selengkapnya...