بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
Tampilkan postingan dengan label Motivasi Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi Hidup. Tampilkan semua postingan

Rumus Jitu Aa Gym, Hadapi Persoalan Hidup



Bagaimana cara efektif agar kita bisa menghadapi persoalan hidup?


Sebelumnya, harus kita pahami terlebih dulu. Jangan menganggap persoalan sebagai sesuatu yang merendahkan diri kita. Coba, saya tanya, Rasulullah itu hidupnya banyak ujian? Banyak masalah? Sering dihina, dicaci dan dimusuhi banyak orang? Nah, bagaimana sosok Rasul? Beliau manusia yang mulia kan? Persoalan adalah sesuatu yang mengangkat derajat seseorang. Justru jangan bangga ketika tidak ada persoalan dalam hidup kita. Pada intinya ujian itu bisa berupa kelapangan/kemudahan dan kesempitan/kesusahan. Ujian kelapangan itu yang lebih bahaya. Karena ketika berada dalam kondisi lapang, kita cenderung sedikit mengingat Allah.
Salah satu ulama pernah berkata, “Tidak bisa seseorang meraih saripati ilmu tauhid, bila belum mengamalkan ilmu kelapa.” Apa itu? Kita lihat, kelapa itu dijatuhkan dari pohon, dijambak sampai gundul, digetok pakai golok, dicungkil sampai copot, disisir, lalu diparut, dan diperas! Percayalah, dengan mengalami persoalan hidup, kita justru bisa mendapatkan banyak kebaikan. Saya pernah berada di masa-masa hidup penuh pujian. Kemudian, kondisi berbalik. Saya dicaci di infotainment dan sebagainya. Tapi dari situ, Alhamdulillah, ketika menghadapi ujian yang berat, anak-anak saya malah jadi hafidz. Pesantren jadi ramai. Persoalan hidup itu tidak bahaya, karena semua sudah diukur oleh Allah. Yang bahaya adalah, manakala kita salah dalam menyikapi persoalan hidup.

Boleh dibagi kepada keluarga sejuk NH, rumus yang Anda praktikkan dalam menghadapi persoalan hidup?

Rumus pertama, kita harus siap menghadapi yang cocok dan yang tidak cocok dengan keinginan. Mustahil semua keinginan kita terwujud, atau hidup kita semuanya cocok terus dengan apa yang kita mau. Misalnya, setiap orang tentu ingin selalu sehat. Padahal, ada masanya kita harus menghadapi sakit. Sakit dan sehat itu hanya episode kehidupan. Berapa banyak orang menjadi mulia karena sakit, dan berapa banyak orang yang hina ketika ia sehat. Setiap takdir ada jalannya. Jangan pernah berprasangka buruk. Tugas kita hanyalah: (1). Meluruskan niat lillahit ta’ala; (2). Sempurnakan ikhtiar di jalan Allah; (3). Pasrahkan dengan tawakkal. Orang yang sakit hati pasti tidak tawakkal, karena merasa keinginannya paling benar.

Rumus kedua, kalau sesuatu sudah terjadi, maka kita harus ridho. Orang stres itu bukan karena kenyataan, tapi karena tidak terima kenyataan. Terimalah takdir yang ada, sambil kita terus berikhtiar untuk takdir yang lebih berkah. Orang depresi karena tidak terima takdir. “Sulit” itu kan persepsi kita. Pujian dan cacian itu sama saja, bergantung pada bagaimana cara kita menyikapinya.

Rumus ketiga, Jangan mempersulit diri. Mudahkan, jangan dibuat ribet. Karena, rasa sakit itu sebanding dengan tingkat “ketergantungan” kita pada makhluk. Manakala kita begitu “bergantung” pada uang, misalnya, lalu uang itu hilang, maka rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Sebenarnya, orang yang paling sengsara itu mereka yang menginginkan sesuatu yang tidak ada takdirnya. Ridho, ridho, kita harus ridho. Misalkan ban kita pecah. Jangan sedih. Setelah ucapkan innalillahi, kita pahami bahwa artinya ada rezeki tukang ban di dompet kita. Aduh, tapi ngedorong motornya masih jauh! Ya, pahami, bahwa memang kita kudu olahraga. Enak kan, hidup kalau ridho seperti itu.
Dihina orang tak akan rugi. Nabi Muhammad saja, yang begitu mulia juga kerap dihina. Justru, kalau ada orang nggak suka sama kita, ini kesempatan baik supaya kita instropeksi. Apa iya kita melakukan keburukan sebagaimana yang ia katakan? Lalu, anggap saja, orang yang sebel sama kita itu, sebenarnya sayang dengan diri kita, wong dia selalu ingat kita siang dan malam. Iya kan?
Yang bahaya, kalau kita yang sebel sama tetangga. Giliran tetangga naik gaji, eh, kita naik tensi. Rugi.

Rumus keempat, evaluasi diri.  Coba kita baca Surat An-Nisa ayat 79. Karunia apapun yang kamu peroleh PASTI dari Allah. Sementara keburukan apapun MUTLAK dari diri kamu sendiri. Orang bisa tobat kalau dia merasa sebagai sumber musibah. Sementara orang nggak bisa tobat kalau dia merasa sebagai korban.
Ingat sabda Rasul, “Laa taghdhob, walakal Jannah.” Jangan marah, bagimu surga. Para pemarah susah ke surga, karena pahalanya habis. Janganlah kita banyak mikir dan komentar yang tidak perlu. Ayo terus evaluasi diri.

Rumus kelima, cukuplah Allah sebagai penolong kita. Manakala kita bersandar pada “sesuatu”, tentu ada rasa takut kehilangan “sesuatu”. Misal, kita bersandar pada jabatan. Dengar kata mutasi, eh kita malah dengarnya mutilasi. Ya itu tadi, makin bersandar pada makhluk, makin capek. Makin ingin dipuji dan dicintai, rasanya makin sakit hati.

Terus camkan dalam diri, bahwa bergaul dengan manusia bukan berarti kita mengharapkan sesuatu dari manusia lain. Jangan berharap disayangi atau diberi, tapi berharaplah untuk makin menyayangi dan memberi. Kita akan merasa lebih tenang, ketika tidak banyak berharap. Ingatlah, bahwa kita tidak dirancang untuk menyelesaikan persoalan. Dengan adanya persoalan, kita dekati Allah, dengan jalan tobat dan taat kepada-Nya. Maka, kita akan menjadi tenang, ada jalan keluar dan persoalan hidup kita beres, atas izin Allah.(*)

[+/-] Selengkapnya...

Ia Mengujimu Karena Ia Mencintaimu

Ujian merupakan bukti cinta Allah kepadamu. Ada beberapa petikan yang saya peroleh dari sebuah buku saku karya DR. Khalid, yang intinya adalah sebagai berikut :

  1. Ia mengujimu untuk mengangkat derajatmu di surga karena Ia mencintaimu
  2. Ia mengujimu agar kamu sadar dari kelalaian jiwamu dan agar bangun dari gelimangan dosamu karena Ia mencintaimu
  3. Ia mengujimu untuk menghapus kesalahanmu yang dapat memasukkanmu ke neraka, karena Ia mencintaimu.
  4. Ia mengujimu agar kamu mengetahui kadar nikmat-Nya, sehingga kamu dapat mensyukurinya, dan ini juga karena Ia mencintaimu
  5. Ia mengujimu agar kamu mengetahui nilai dunia dan hakikatnya, sehingga kamu memandang akhirat, ini karena Ia mencintaimu
  6. Ia mengujimu supaya kamu ridha kepada Allah SWT, sehingga kamu berhak mendapatkan ridho dari-Nya. Hal ini juga karena Ia mencintaimu
  7. Ia mengujimu agar kamu merasa rendah dihadapan-Nya, sehingga kamu berdoa dimalam hari, maka Ia pun mengabulkan permohonan doamu dengan segera, serta mengganti satu nikmat dengan yang telah hilang  dengan nikmat lain yang berlimpah
  8. Ia mengujimu agar kamu masuk surga dari pintunya yang sangat luas dan jalan yang sangat mudah

“... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”  (Az-zumar : 10)

[+/-] Selengkapnya...

3 Cara Mengatasi Kecemasan Berlebihan

 

Anda Harus Mengatasi Kecemasan Berlebih Agar Tidak Menyia-nyiakan Energi Anda

Ya, kita harus segera mengatasi kecemasan berlebihan kita, karena kecemasan berlebihan akan menghabiskan energi kita. Energi kita habis, sementara tidak ada hasil yang bisa kita dapatkan. Meski pun kita diam, menggerutu, marah-marah, dan sebagainya akan membuat mental kita lelah, dan tidak ada energi untuk hal lain yang positif.

Kecemasan Berlebihan Juga Membuang Waktu

Saat hidup Anda dihabiskan untuk kecemasan berlebihan, maka waktu Anda akan terlewat saja tanpa makna, tanpa hasil, dan tanpa prestasi. Hidup Anda hanya dihabiskan untuk memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Padahal, waktu bisa digunakan untuk hal lain yang lebih berarti.
Anda bisa melakukan tindakan untuk mengantisipasi apa yang Anda khawatirkan. Jika ada cemas akan kehilangan uang, mengapa Anda tidak mengantisipasi agar resiko kehilangan uang itu berkurang. Atau antispasi jika benar-benar Anda kehilangan uang. Ini jauh lebih baik dibandingkan Anda hanya mengkhawatirkan saja tanpa bertindak.

Kecemasan Ibarat Virus Mental Yang Bisa Menyebar

Perasaan cemas berlebihan akan menjadi virus mental, yang gejalanya akan menyebar ke seluruh aspek kehidupan Anda. Untuk kesehatan mental tidak baik, Anda akan menjadi pribadi yang pesimis, apatis, penakut, dan malas. Juga saya sering membaca berbagai artikel yang mengatakan kondisi mental yang negatif bisa merusak kesehatan fisik juga.
Kecemasan berlebihan bisa merusak relasi, dimana mental Anda negatif, Anda kehilangan antusias, dan perangai Anda menjadi tidak baik. Ingat, Anda sibuk dengan pribadi Anda, begitu juga orang lain akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Saat ada yang tidak beres dari Anda, bisa jadi mereka menjauh dan fokus pada urusan mereka. Anda bisa dianggap menjadi “pengganggu”.

Kabar Gembira, Ada Solusinya!

Jika Anda mengalami masalah ini, yaitu merasakan kecemasan berlebihan, silahkan coba praktekan tip-tip dibawah ini.

Hujamkan Dalam Hati: Apa Pun Yang Terjadi, Itu Terbaik Bagi Saya

Satu ayat yang langsung menghilangkan kehawatiran saya adalah:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS Al Baqarah: 216)

Bisa jadi, kita memang tidak suka dengan rasanya, padahal itu yang terbaik bagi kita. Sebagai contoh kehilangan uang memang pahit, apalagi dalam jumlah yang besar. Kita tidak suka, padahal bisa jadi Allah sudah punya rencana yang lebih baik dibalik kehilangan uang tersebut. Kita hanya tidak mengetahui dan tidak menyadarinya. Kadang, kesadaran akan manfaatnya kita ketahui belakangan.
Masalahnya banyak orang yang menolak ini. Mereka lebih memilih mendapatkan keinginan dia (hawa nafsu) ketimbang pilihan Allah yang pastinya jauh lebih baik. Ini tentang keimanan, apakah Anda yakin Allah memberikan yang terbaik atau tidak. Jika yakin, maka insya Allah, kecemasan itu akan hilang.

Tawakal Kepada Allah

Terlepas ada yang bisa dilakukan atau tidak, tawakal akan mengurangi kecemasan. Kita yakin, bahwa apa yang akan terjadi adalah ketentuan Allah dan Allah pasti memberikan yang terbaik bagi kita. Untuk itu, serahkan semuanya kepada Allah, mintalah bantuan, pertolongam, dan bimbingan Allah agar kita menemukan solusi, mampu menghadapi yang kita cemaskan, dan lebih baik lagi jika terhindar dari apa yang kita cemaskan.
Silahkan baca Bulatkan Tekad Dan Bertawakallah. Bulatkan tekad untuk menghadapi apa yang Anda di depan Anda, dan bertawakallah kepada Allah. Insya Allah Anda akan sanggup.

Cari Pilihan Ikhtiar Yang Optimal

Saat Anda merasa panik karena kecemasan berlebihan, sering kali pikiran menjadi buntu. Kita tidak bisa memikirkan apa yang harus kita lakukan. Paling gawat saat kita memilih solusi jalan pintas yang akan disesali bahkan tidak sesuai dengan ajaran agama. Dengan dua sikap diatas, yaitu yakin bahwa Allah akan memberikan terbaik dan kita menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, in sya Allah kita akan lebih tenang dan bisa berpikir lebih jernis.
Kemampuan Anda berpikir jernih, akan membuka jalan untuk menemukan solusi terbaik. Ada beberapa kemungkinan solusi, jangan paksakan dengan 1 solusinya saja. Kebanyakan orang yang cemas, dia hanya ingin apa yang dia cemaskan hilang. Itu mungkin solusi terbaik, tapi bukan hanya itu solusi yang bisa kita dapatkan.
Jika tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan akibat buruk yang kita cemaskan, maka pikirkan antisipasinya. Jika itu benar-benar terjadi, apa tindakan terbaik yang bisa kita lakukan? Bisakah dilakukan sekarang agar akibat buruknya berkurang? Jika bisa, maka lakukan itu sekarang.
Jika tidak bisa dilakukan sekarang, ya sudah, mau apa lagi? Khawatir tidak ada gunanya bahkan memperburuk keadaan. Tugas Anda berdo’a, yakin dengan ketetapan Allah, dan bertawakal. Apakah tidak perlu ikhtiar? Selalu ada ikhtiar yang bisa kita lakukan.
Mungkin, kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menghindar dan mengatisipasi yang kita cemaskan, namun Anda bisa menjadikan diri Anda menjadi lebih baik, sehingga lebih siap menghadapi kondisi apa pun. Bukankah ini lebih baik dibandingkan hanya cemas?

Disadur dari : http://www.motivasi-islami.com/cara-mengatasi-kecemasan-berlebihan/

 

[+/-] Selengkapnya...

Manajemen Prioritas

Assalaamu'alaikum wr wb.

Seringkali kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit dalam hidup kita. Manakah yang harus kita prioritaskan?
Contoh sederhananya, dalam membuat cake, apa yang dimasukkan lebih dulu? biasanya mentega, gula, dikocok dulu..lalu masukkan telur.. kocok lagi..lalu terigu..lalu masukkan oven dan jadilah cake-nya .
Namun bagaimana bila urutannya terigu dulu, lalu mentega, kemudian gula, telur, bayangkan sulitnya mencampur dan mengocok semua bahan tersebut hingga rata. Dan bisakah jadi cake-nya? Kemungkinan akan bantat…
Demikianlah manajemen prioritas berlaku dalam hidup kita. Bila prioritas tidak tepat, bikin kue saja gagal.. begitu pula hidup kita.
Saat ini kita juga sama-sama menyaksikan, bahkan mengalami bagaimana skala prioritas yang dibuat dan dilakukan pemerintah Jepang dalam menghadapi masa-masa sulit pasca musibah 11 Maret kemarin. Begitu reaktor nuklir mengalami kerusakan, evakuasi warga diprioritaskan. Safety first. Sehingga kita sama-sama berharap, dengan manajemen prioritas yang tepat, kemaslahatan manusialah yang akan tercapai.


Kasus 1:
Nita, seorang ibu rumah tangga dengan dua anak balita sering bingung menghadapi hari-harinya. Ingin hatinya mencurahkan seluruh waktunya untuk mengurusi keperluan kedua buah hatinya, belajar, bermain, jalan-jalan. Namun, Nita juga ingin dirinya bisa tetap beribadah dengan khusyu`, menjalankan ibadah-ibadah sunah seperti yang rutin dilakukannya sejak masih gadis. Ia juga berusaha membereskan pekerjaan rumah tangga yang bertumpuk sebelum atau sesudah anak-anaknya tidur. Bagaimana ia harus memprioritaskan hal-hal penting tersebut dalam hidupnya?

Kasus 2:
Akhir-akhir ini Lili sibuk sekali, ia terlibat berbagai aksi sosial pengentasan kemiskinan dan kampanye hidup sehat di masyarakat sekitar. Bakti sosial, mendistribusikan sembako, memberikan penyuluhan ke puskesmas, semua kegiatan itu benar-benar menguras energinya. Sering kali ia tidak menghadiri kuliah di kampus juga pengajian rutinnya. Lili merasa lelah sekali.

Kedua kasus di atas adalah contoh kecil masalah manajemen prioritas dari cuplikan kehidupan keseharian. Sebetulnya masalah manajemen prioritas tidak hanya kasus pribadi, melainkan juga kasus bermasyarakat dan bernegara.

Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat pada umumnya seringkali mengalami penyimpangan menentukan skala prioritas. Misalnya saja seni dan hiburan diberi perhatian lebih daripada ilmu pengetahuan. Media massa memberitakan bidang seni dan hiburan, atau entertainment secara besar-besaran. Kajian terhadap dunia seni dan entertainment ini juga tak kalah heboh. Opini massa digiring untuk lebih tertarik pada bidang ini daripada membuat masyarakat tertarik pada buku dan ilmu pengetahuan.
Begitupula dengan masalah jasmani yang lebih diutamakan daripada masalah akal dan jiwa. Misalnya saja kuliner dan olahraga menyedot perhatian yang luar biasa daripada kajian tentang eksplorasi alam, sosial, bahkan agama.
Contoh lainnya lagi adalah banyak orang yang lebih peduli pada hal yang sunah daripada yang wajib. Sebagian besar waktunya habis untuk wirid, bertasbih, namun melupakan berbuat baik pada orang tua, menolong fakir miskin, menyayangi anak yatim, menjadi tetangga yang baik, dan memerangi kezaliman sosial maupun politik. Ada lagi orang-orang yang habis berdebat tentang hal-hal khilafiyah (terdapat perbedaan pendapat antar ulama dan ahli fiqh) dibandingkan mengurusi hal-hal yang pokok, yang sudah disepakati oleh para ulama.

Beberapa Ahli manajemen memberikan solusi untuk manajemen prioritas sebagai berikut,
1. Membuat peta masalah. Dengan bantuan perangkat yang disebut Jouhari Windows mungkin masalah bisa dipetakan dengan jelas.

I. Penting dan mendesak
II. Penting namun tidak mendesak
III. Tidak penting namun mendesak
IV. Tidak penting dan tidak mendesak

Kuadran I. Penting dan Mendesak
Misalnya menghadiri rapat tepat waktu, berbelanja saat kehabisan barang, menyelamatkan barang berbahaya dari tangan bayi. Sholat ketika waktunya sudah akan berakhir. Semuanya penting dan mendesak, maksudnya harus segera dilakukan.

Kuadran II. Penting namun Tidak Mendesak
Misalnya menimba ilmu (baik ilmu agama, ilmu umum, ilmu yang sesuai spesialisasi, profesi, dan ilmu lainnya), berbelanja untuk persediaan barang di rumah, membimbing anak belajar.

Kuadran III. Tidak Penting namun Mendesak
Misalnya mengangkat telpon

Kuadran IV. Tidak Penting dan Tidak Mendesak
Misalnya nonton Film hingga larut malam, sering `window shopping', sering melamun.

2. Memaksimalkan kuadran II
Bisa saja kita me-list mana yang masuk kuadran I,II,III,dan IV. Idealnya, yang paling banyak adalah list di kuadran II, disusul kuadran I, kuadran III, lalu kuadran IV. Seringkali kita terjebak membuat kesalahan sehingga yang seharusnya masuk ke kuadran II menjadi masuk ke kuadran I. misalnya menunda waktu sholat. Sholat yang dikerjakan tepat waktu bisa menjadi optimal dan berkualitas (masuk kuadran II, Penting tapi tidak mendesak), namun karena ditunda jadi dikerjakan terburu-buru (masuk kuadran I, Penting dan mendesak). Begitupula kuadran III dan IV yang membengkak, padahal kedua kuadran tersebut perlu diminimalisir.
Kesalahan menempatkan prioritas inilah yang membuat hidup kita dan juga hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menjadi kurang berkualitas.

Bagaimana Menetukan yang Penting dalam Skala Prioritas

Seperti apakah ukuran yang benar untuk menentukan tingkat ke`penting`an suatu hal? Mana hal-hal yang seharusnya ditempatkan pada urutan utama Skala Prioritas?
Islam memberikan tuntunan sebagai berikut,

1. Prioritas dalam kehidupan tercantum dalam Al Quran
Ukuran penting atau tidaknya suatu hal dalam kehidupan kita telah ada sumbernya, yaitu Al Qur-an. Kita bisa mengetahuinya dari banyaknya ayat-ayat yang menyinggung hal tersebut. Misalnya saja tentang ilmu pengetahuan. Ada banyak ayat dalam Al Quran yang menyerukan untuk mengkaji. Baik mengkaji ayat-ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis (alam). Juga banyak ayat yang diakhiri dengan `apakah kamu tidak memikirkan?` , `apakah kamu tidak mengetahui?`
Contoh lain lagi adalah ayat-ayat yang berhubungan dengan aqidah, tauhid yang merupaka pokok ajaran agama. Juga ayat-ayat yang berkaitan dengan ibadah, baik individu maupun sosial. Hal lain yang diberi perhatian adalah yang terkait dengan akhlak, sifat-sifat yang baik, kejujuran, kebenaran, kesederhanaan, rasa malu, rendah hati, harga diri, berbuat baik pada orang tua, memelihara silaturrahim, menyantuni fakir miskin, menyayangi anak yatim. Kita juga perlu menyadari adanya hal-hal yang diberi perhatian sedikit dalam Al Quran, seperti tentang `Isra-Miraj` yang hanya disinggung dalam satu ayat. Berbeda dengan peperangan yang dibahas sampai satu surah lebih. Ada juga yang sama sekali tidak disinggung dalam Al Quran seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan hal ini kurang penting, bahkan tidak terkait dengan ibadah sama sekali. Berbeda dengan kelahiran Nabi Isa AS yang disinggung Al Quran karena merupakan salah satu mu`jizat beliau.

2. Antara prioritas dan kondisional
Penentuan Skala Prioritas sangat berhubungan dengan kondisi, waktu, juga tempat. Misalnya Prioritas bagi ibu rumah tangga berbeda dengan prioritas bagi pemuda. Prioritas dalam kondisi darurat tentu berbeda dengan prioritas dalam kondisi normal. Al Quran mencontohkan hal-hal ini tidak bisa disamakan. Prioritas tiap zaman juga berbeda. Kita bisa menemukan dalam siroh, bahwa titik tekan kebijakan yang dilakukan pada masa khulafaurrasyidin berbeda-beda. Misalnya saja pada zaman Umar bin Khatab r.a terjadi ekspansi besar-besaran yang belum dilakukan di masa Abu Bakar r.a. Demikian pula dengan faktor tempat. Ibadah yang dilakukan di medan perang berbeda dengan yang dilakukan di rumah.

3. Memprioritaskan ilmu di atas amal
Ilmu adalah petunjuk amal. Dengan ilmu maka amal yang dilakukan menjadi benar. Orang yang berilmu lebih utama daripada ahli ibadah sekalipun bila itu dilakukan tanpa ilmu. Ilmu juga menjadi syarat terhadap profesi seseorang. Baik dibidang kedokteran, militer, kehakiman, pemerintahan, sehingga dengan profesi ini suatu kaum menjadi berjaya. Begitupula seorang pemberi fatwa tidaklah diperbolehkan bagi sembarang orang. Harus seorang yang benar-benar menguasai di bidang tersebut.

4. Memprioritaskan kualitas di atas kuantitas
Perbuatan yang sedikit namun benar dan bermanfaat lebih utama daripada perbuatan yang banyak namun tidak benar dan tidak bermanfaat. Al Quran dan Sirah memberi gambaran bagaimana mementingkan kualitas dalam setiap amalan, juga dalam pembentukan pribadi. Mungkin kita masih ingat pada kisah perang Badar dan juga kisah Thalut-Jalut, bagaimana kelompok minoritas yang berkualitas mengalahkan kelompok mayoritas yang tidak berkualitas. Juga sejarah yang mencatat orang-orang luar biasa yang sedikit jumlahnya namun orang-orang tersebut begitu besar manfaatnya bahkan manfaatnya masih terasa walaupun mereka sudah tiada. Misalnya para imam mahzab, tokoh-tokoh seperti ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu, Rush, dll. Mungkin kita pernah mendengar kata-kata:
"Ada orang yang meninggal sebelum ajalnya, karena tidak bermanfaat usianya, namun ada orang yang masih hidup setelah ajalnya, karena manfaat ilmu dan amal sholehnya, dan keturunannya."

5. Memprioritaskan yang ringan dan mudah daripada yang berat dan sulit
Bila kita dihadapkan pada dua pilihan amal, maka pilihlah yang ringan dan mudah dikerjakan daripada yang berat dan sulit dikerjakan. Demikianlah Islam mempermudah kehidupan kita, dan tidak mempersulitnya. Bisa kita lihat begitu banyak hal-hal yang diberikan keringanan (rukhsah) oleh Allah, dan lebih diutamakan kita mengambil rukhsah itu. Misalnya sholat jama` dan qashar ketika bepergian, boleh berbuka puasa di bulan ramadhan untuk yang sakit, tua, ibu hamil dan menyusui, dll.
Tuntunan Prioritas Dalam Hal Ibadah

1. Prioritas dalam hal ibadah. Seperti juga prioritas dalam bidang keduniawian, dalam hal ibadah yang paling prioritas adalah ibadah yang sesuai dengan masa dan situasinya. Ibadah yang diprioritaskan ketika azan telah berkumandang adalah sholat. Ibadah yang diprioritaskan ketika sepertiga malam adalah sholat malam, tadabbur quran, bermunajat dan mohon ampun pada Allah. Ibadah yang diprioritaskan saat kedatangan tamu adalah menyambut tamu itu dan mengurusi keperluannya meski harus meninggalkan tilawah Al Quran dan wirid. Ibadah yang prioritas bagi anak adalah berbakti pada orang tua, bagi seorang istri adalah melayani suaminya, meski harus meninggalkan puasa sunahnya. Bagi seorang ibu adalah mengurusi anak-anaknya, meski harus meninggalkan puasa wajibnya di bulan Ramadhan (bila ia hamil atau menyusui). Prioritas ibadah dimasa kekurangan adalah bersedekah. Di masa peperangan adalah berperang, meski ia harus meninggalkan sholat dan puasa sunahnya, bahkan boleh menunda sholat wajibnya bila sedang tidak aman. Dengan begitu Islam menuntun kita dalam manajemen prioritas setiap waktu, setiap kondisi, setiap tempat sehingga apapun situasinya kita tetap bisa meraih ridho Allah.

2. Prioritas dalam ibadah harus sesuai tingkatan hukum. Fardhu `ain diprioritaskan atas yang fardhu kifayah, yang wajib diprioritaskan atas yang sunah, yang sunah diprioritas di atas yang makruh

3. Prioritaskan hak hamba diatas hak Allah. Bila sebuah hal yang hukumnya fardhu ain namun ada hak Allah dan hak hamba didalamnya, maka yang diprioritaskan adalah hak hamba. Misalnya dalam hal harta. Bila harta yang dimiliki seseorang telah cukup untuk naik haji, namun masih ada utang kepada orang lain, maka yang diprioritaskan adalah membayar utangnya lebih dulu. Bahkan dalam sebuah hadits shahih dikatakan, "semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni, kecuali utangnya." (HR Muslim dari Abdullah bin Umar). Ini juga sebabnya kita boleh memprioritaskan makan daripada sholat fardhu, bila makanan itu telah terhidang.

Tuntunan Prioritas Dalam Hal Amal
1. Memprioritaskan amal yang kontinyu diatas amal yang terputus putus
" Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinyu meskipun sedikit" (Muttafaq `Alaih, dari Aisyah ra—Shahih Al Jami` As-shaghir 163)

2. Memprioritaskan amal yang lebih banyak dan lebih lama manfaatnya diatas amal yang sedikit dan sebentar menfaatnya. Misalnya saja dalam bersedekah, lebih diprioriaskan memberikan sedekah berupa barang yang lebih lama manfaatnya. Misal, memberikan sapi yang hamil atau membuat sarana air bersih untuk warga. Dengan umur kita yang pendek maka amalan yang kita lakukan tentu terbatas, disinilah peran amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir bagi penerima amal maupun bagi si pemberi amal.

3. Memprioritaskan beramal pada zaman fitnah. Zaman fitnah yang dimaksud adalah masa ketika terjadi fitnah, ujian, cobaan, sehingga kondisi dan situasi saat itu menjadi begitu berat dan menyulitkan. Keteguhan, kesabaran, dan kekuatan untuk terus beramal sholeh dalam situasi ini lebih prioritas daripada di masa mudah. Misalnya menentang pemerintah yang zalim. Atau kondisi musibah seperti sekarang. Dapat kita rasakan pada situasi yang tengah dihadapi saat ini di Jepang, ditengah bencana yang melanda dan ketakutan akan radiasi nuklir yang mengancam, maka beramal sholeh menolong sesama manusia menjadi amalan yang utama. Dibandingkan beramal sholeh pada mereka ketika kondisinya normal-normal saja.

4. Memprioritaskan amalan hati di atas amalan badan. Amalan badan yang dilakukan tidak akan berguna tanpa disertai amalan hati. Karena syarat diterimanya sebuah amalan adalah dari niat dan hati kita. Ketakwaan ada di dalam hati, keimanan ada di dalam hati, keikhlasan, kejujuran, cinta, inilah yang akan melahirkan amalan badan yang diterima oleh Allah.

5. Prioritaskan sesuai keadaaan, waktu, dan tempat. Disinilah perlunya kita melihat dan mempertimbangkan kondisi yang sedang berlangsung. Misalnya di sebuah negara bila ada pertanyaan, manakah bidang yang lebih diprioritaskan; pertanian, perindustrian, atau perdagangan? Para ulama yang mengkaji hadits-hadits terkait berpendapat, bila masanya negara tersebut kekurangan bahan makanan sehingga harus mengimpor dari negara lain, maka pertanian menjadi prioritas. Tentu saja disesuaikan juga dengan ketersediaan lahan, kesuburan tanah, dan kondisi terkait lainnya. Bila yang terjadi adalah makanan cukup, pertanian berjalan baik, namun bidang industri tidak bergerak sehingga negara harus mengimpor barang-barang dan angka pengangguran tinggi , maka yang diprioritaskan adalah negara membuka lahan industri dari yang kecil sampai yang besar sehingga bisa memproduksi barang-barang secara mandiri dan membuka lapangan pekerjaan bagi bangsanya. Namun bila yang terjadi adalah makanan dan barang telah melimpah, maka diprioritaskan membuka bidang perdagangan sehingga barang-barang bisa diekspor. Demikianlah Islam menuntun umatnya dengan fleksibel dan kondisional. Bila yang terjadi saat ini adalah umat Islam yang membutuhkan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, teknologi canggih, persenjataan modern, maka tanggungjawab pemerintah untuk membuka setiap jalan yang menuju kesana. Membangun universitas, mengembangkan riset, dan lain-lain. Inilah yang akan mengembalikan harga diri dan kekuatan kaum muslimin.

6. Prioritaskan memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem. Perbaikan diri adalah modal untuk memperbaiki sistem. Sistem yang baik dibuat dan dijalankan oleh individu yang baik. Karena itulah pembinaan diri diprioritaskan sebelum pembinaan masyarakat dan pembangunan sistem. Semuanya berawal dari pembinaan diri. Perbaikan diri. Ini pula alasan mengapa pembinaan diri lebih diprioritaskan daripada berjihad. Membina diri dengan mempelajari isi Al Quran, menjalankan ibadah wajib dan sunah, mengamalkan ilmu yang didapat, berakhlak dan berpikiran sesuai Al Quran, akan menjadi modal utama lahirnya orang-orang yang dapat membawa dunia kearah kebaikan.

Dengan demikian berdasarkan tuntunan prioritas diatas kita bisa memecahkan kasus Nita:
1. amalan yang prioritas untuk Nita sebagai ibu adalah mengurus anak-anaknya tentu saja.
2. Dalam beribadah, Nita bisa menjadikan ibadahnya masuk ke kuadran II dengan mengatur waktunya. Amalan sunah pun tetap bisa dikerjakan namun disesuaikan dengan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Misalkan melakukan sholat malam sedikit jumlah rakaatnya, tapi kontinyu ketika anak-anak sudah tidur. Nita juga perlu memprioritaskan mengambil rukhsah yang diberikan Allah bila hamil dan menyusui. Justru hal ini yang lebih disukai Allah.
3. Mengerjakan tugas rumah tangga pun bisa diatur waktunya sehingga masuk ke kuadran II. Tentu sahabat Fahima sudah membaca artikel Manajemen Waktu dan Peran Muslimah bukan? Nah, Kasus Nita ini terjawab juga di sana. Namun dalam kacamata prioritas, pekerjaan rumah tangga bisa ditunda setelah mengurus anak dan beribadah.
Catatan kecil : dengan memahami point `Hak hamba di atas Hak Allah, maka bila terjadi anak yang menangis padahal sudah masuk waktu sholat, maka diprioritaskan untuk menenangkan anak terlebih dahulu, atau bahkan menyusuinya bila ia lapar, baru kemudian menunaikan sholat. Tentu saja bila sholatnya bukan diakhir waktu. Dengan begini justru sholat dapat dilakukan dengan lebih konsentrasi dan khusyu`.

Untuk Kasus Lili:
1. Amalan yang perlu diprioritaskan oleh Lili adalah pembinaan dirinya, yaitu menuntut ilmu dan menghadiri pengajian rutin. Ini penting sekali untuk modal beramal. Sebisa mungkin Lili mengatur jadualnya yang padat agar tidak terjadi bentrokan.
2. Bila tetap terjadi bentrokan waktu antara pembinaan diri dan aktivitas sosialnya, sebisa mungkin Lili mendelegasikan tugas aktivitas sosialnya kepada rekannya karena berkaitan dengan kemaslahatan umat. Diharapkan tetap mendapatkan pembinaan diri karena pembinaan diri ini sangat penting dan tidak bisa didelegasikan pada orang lain.
3. Menyempatkan diri untuk istirahat dan refreshing secukupnya

Untuk kasus yang lebih luas lagi menyangkut masyarakat, bangsa, dan negara tentu saja tidak mudah memecahkannya. Namun, diawali dari pemahaman terhadap prioritas ini semoga kita bisa mencapai tujuan yang diinginkan, baik dunia maupun akhirat.
Wallahu a`lam bishowab

Sumber :
1. Yusuf Qardhawi, `Fiqh Prioritas', e-book
2. http://karisma.de : Kajian tentang Waktu dan Prioritas , dengan penyesuaian.

diunduh dari : http://rumahfahima.org/en/artikel/manajemen/442-manajemen-prioritas


[+/-] Selengkapnya...

Service pertamaku....

"Satu Juta enam ratus tiga puluh ribu delapan ratus rupiah".. Apppa ?? itulah biaya service pertama ku untuk mobil Grand escudo xl7. Kenapa kaget ?? apa karena selama ini tidak pernah mengeluarkan biaya service sebesar itu ? Jawabanya..So Pasti..

La iya lah, mobil timor saya yang dulu, paling banter biaya service Rp. 500.000,- itu pun masih bisa ditawar di Bengkel 'Ujang'. Tapi tidak mengapa, pasti ada hikmah dibalik semua ini, mungkin ini jalan Allah memberikan pelajaran kepada saya agar saya bisa memahami bahwa setiap sesuatu itu pasti ada plus minusnya. Jangankan mobil, manusia saja ada kelebihan dan kekurangannya. Mau mobil nyaman, konsekwensinya ya ini... biaya servive mahal, pajak mahal, bahan bakar mahal dsb. Begitu juga dengan Mobil timor saya dulu, semua murah, tapi sudah tidak sesuai dengan kebutuhan lagi, nggak nyaman lagi.... atau mungkin Allah menegur saya agar lebih menjadi yang Bersyukur.. yang akhir-akhir ini selalu saja merasa kurang... entah apa yang di'kurang'kan dari rezeki yang telah diberikan-Nya.

Ya Allah, ampunilah segala kesalahan hamba, segala dosa hamba... La haula wala Quwwata Illa billa hil 'aliyyil 'adzhiim..

[+/-] Selengkapnya...

Welcome 2012......

Subhanallah, Walhamdulillah Wa Laailahaillallah.

Tahun 2011 sebentar lagi akan meninggalkan kita. Banyak peristiwa yang terjadi pada tahun ini. Tiada kata lain selain ucapan syukur yang tiada henti-hentinya atas ‘takdir’ yang ditetapkan oleh Allah SWT. Karena saya yakin, peristiwa apapun itu baik yang sesuai dengan harapan ataupun yang tidak sesuai dengan keinginan, pasti itu adalah yang terbaik bagi kita semua. Karena saya yakin sesungguhnya Allah lah yang Maha mengetahui.....

Sederetan peristiwa ‘penting’ yang saya alami pada tahun ini, sayang kalau terlewatkan begitu saja. Mulai dari peristiwa yang telah saya posting sebelumnya, yaitu berpulangnya Ayah Mertua saya pada bulan Agustus 2011, yang bertepatan pada bulan suci Ramadhan, Dapet predikat “Fungsional terbaik tahun 2011 KPP Madya Palembang” sesuai dengan KEP-035/WPJ.03/KP.08/2011 tanggal 26 Oktober 2011, hampir jadi ‘Inspiring Employee tahun 2011’ sampai dengan ganti mobil dari mobil timor yang telah menemani saya hampir 10 tahun (dijual tanggal 27 Desember 2011) menjadi mobil idaman saya Grand escudo XL-7 pada tanggal 21 Desember 2011.

Tiada kata lain selain mengucap Syukur Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang telah Engkau Berikan... Jadikanlah Hamba menjadi hamba yang selalu berzikir, bersyukur dan selalu taat kepadamu ya Allah... Amiin

Selamat tinggal tahun 2011, selamat datang 2012. semoga tahun yang akan datang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya..... Amiin.

[+/-] Selengkapnya...

101 KUMPULAN KATA-KATA BIJAK MARIO TEGUH

1.
“Sebagai Ibu rumah tangga, janganlah pernah katakan: Saya hanya mengurus suami dan anak-anak. Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia di muka bumi ini daripada memelihara, menumbuhkan, dan membesarkan keluarga yang baik. Saya sangat bersyukur bahwa Ibunda saya, Sitti Marwiyah memimpin langsung pemeliharaan dan perawatan pertumbuhan saya dan adik-adik, sampai akhir hayat beliau. Ibu, damailah bersama Tuhan.”

2.
“Seorang sahabat, Pak Candra Arif menulis pesan: Pak Mario, betul ya Orang yang sukses adalah karena dia punya banyak CARA, sedang orang yang gagal adalah karena dia punya banyak ALASAN. Cantik sekali! Saya tidak bisa menuliskannya dengan lebih baik. Siapa pun yang masih mengatakan: khan susah?, dan tidak segera bertindak setelah mendengar nasehat baik, adalah MASTER OF ALASAN.”

3.
“Seorang sahabat Ibu Linna di bulan Ramadhan ini mencoba berjualan kue-kue kering dalam box, untuk menambah pendapatan keluarga agar suami tercintanya tidak harus bekerja jauh di luar kota. Di hari ke 22 ini, beliau sudah menjual hampir 1,000 set boxes, dan tadi pagi dia berujar syukur, Memang benar, jika kita bekerja ikhlas untuk kebaikan keluarga, Tuhan selalu memudahkan dan menunjukkan jalan.”


4.
“Dampak dari sebuah nasehat baik bagi seseorang, sangat ditentukan oleh keikhlasannya untuk segera menggunakannya dalam tindakan yang memperbaiki kehidupan. Orang yang hidupnya tidak mudah, sering hanya mau mengerjakan yang mudah-mudah saja. Padahal, tingkat kehidupan ditentukan oleh kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan kesulitan. Inginkan yang mudah, tapi pastikan Anda mampu untuk yang sulit. “

5.
“Wahai jiwa yang merindukan kelembutan, Wajahmu menggambarkan hati yang seperti telah menangis sejak hari kelahiranmu. Sini datanglah engkau mendekat kepadaku, Sebetulnya telah lama datang petunjuk bagi kebahagiaanmu, dan jika engkau berserah diri dan hidup dalam kebaikan,hatimu akan dibebaskan dari rasa khawatir dan kesedihanmu. Engkau jiwa kecintaan Tuhan. Imanmu adalah untuk membahagiakanmu.”

6.
“Kebijakan filosofis dalam Leadership Golden Ways Pasukan domba yang dipimpin oleh seekor singa, akan mengintimidasi pasukan singa yang dipimpin oleh seekor domba. Kewibawaan sebuah keluarga, bisnis, atau organisasi ditentukan oleh keberanian pribadi dari pemimpinnya. Pemimpin harus mengutamakan penghormatan dan keanggunan dalam memuliakan sesama, tanpa melupakan kemampuan untuk menghukum dengan keras.”

7.
“Impian berlabuh di hati yang muda. Dan orang muda yang mengisi hatinya dengan penyesalan, telah menua sebelum tua. Penyesalan hanyalah pantas untuk orang tua yang rugi menukarkan daya ledak dari kemudaannya dengan kesenangan sementara yang sia-sia, yang hari ini terbukti melemahkan hidupnya. Tidak ada orang yang menelantarkan waktu, yang tidak akan ditelantarkan oleh kehidupan. Demi masa.”

8.
“Setiap jiwa diciptakan bertabiat tergesa-gesa sehingga kesabaran memang bukan sifat asli pada kebanyakan jiwa. Dan karena ketergesaannya jiwa yang belum seimbang akan berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Marilah kita menjadi jiwa yang ikhlas mengerjakan yang bisa kita kerjakan, dan menyerahkan yang berada di luar kemampuan kita kepada Tuhan, agar kita dirahmati dengan kesabaran.”

9.
“Engkau jiwa yang dikhususkan oleh Tuhan, dan telah disusunkan rencana kebesaran bagi hidupmu. Apakah setan tahu bahwa engkau direncanakan menjadi orang besar di masa depanmu? Ya. Dan dia telah bersumpah tuk menggagalkanmu sebagai cucu Adam. Maka ia tiupkan rasa ragu, malas, benci kewajiban, suka menyepelekan waktu, dan lupa bahwa engkau selalu lekat dalam perhatian Tuhan. Engkau tidak aslinya peragu.”

10.
“Besarkanlah hatimu dan bebaskanlah ia dari penyesalan atas kesalahan masa lalumu. Ikhlaslah menerima bahwa engkau dulu tak semengerti hari ini, dan engkau sudah bukan pribadi yang bisa melakukan kesalahan seperti itu lagi. Bukan kesalahan masa lalu yang membatalkan kebaikan masa depan, tetapi kesalahan masa kini. Syukurilah hidup yang telah dirahmatkan kepadamu, dan damailah dengan diri baikmu hari ini.”

11.
“Setiap jiwa dilahirkan sebagai bayi yang membutuhkan kasih sayang, untuk tumbuh menjadi pribadi dewasa dan matang - yang masih membutuhkan kasih sayang. Tidak ada petarung sakti mandra guna yang tidak membutuhkan kelembutan dan perhatian penuh kasih. Cobalah bersikap dan berbicara penuh kasih kepada orang lain. Akan banyak hal yang tadinya Anda kira sulit, menjadi sangat mudah karena bantuan mereka.”

12.
“Dan engkau sering berujar lantang agar kita semua ikhlas menyerahkan kebaikan hidup kita kepada Tuhan. Tapi mengapakah engkau meratap-rintih dalam doa dan sujudmu mengenai perlakuan buruk orang lain dan perendahan atas nilai dirimu? Rezeki Tuhan tersebar di muka bumi, lalu mengapa engkau masih berlemah hati di situ? Mana keikhlasan yang kau ajarkan kepadaku itu? KELUARLAH Itu hanya sesuai dengan nasehatmu.”

13.
“WILAYAH NYAMAN adalah konsep yang aneh, karena orang merasa nyaman di wilayah yang sebetulnya tidak baik baginya. Bagaimana mungkin orang yang bersih pikiran dan bening hatinya, melatih diri untuk merasa nyaman tidak dihargai, dibebani besar tapi dibayar kecil, dicari-cari salahnya, dan disudutkan karena menjadi orang baik? Bagaimana caranya keluar dari tempat dan keadaan seperti itu? KELUAR! Ikhlaslah.”

14.
“Sahabat saya yang sedang dinantikan oleh rezeki baiknya, Semua hal yang dilakukan dalam laboratorium adalah percobaan. Kehidupan ini adalah laboratorium, di mana kita melakukan percobaan - bukan untuk membuat, tetapi menemukan diri hebat kita, menemukan pekerjaan yang membesarkan kehidupan, dan menemukan jalan dunia yang indah menuju surga. Apakah yang Anda coba hari ini?”

15.
“Bagi jiwa yang ikhlas menjadikan hidupnya sebagai doanya, Tuhan memenuhi kebutuhannya sebelum dia meminta, sebelum dia menginginkan, bahkan saat dia tidak tahu apa yang bisa diminta dari-Nya. Tuhan-lah yang memuliakan seorang petani miskin yang jujur, di atas seorang raja yang kejujurannya hanya setebal kulit wajah. Kesederhanaan yang jujur adalah lebih mulia daripada kebangsawanan yang tidak amanah.”

16.
“Jika Tuhan berkenan untuk menyejahterakan dan membahagiakan kita, tidak ada apa dan siapa pun yang mampu mencegah-Nya. Yang kita yakini menentukan kesungguhan kerja kita. Maka, meragukan kemungkinan diri untuk berhasil, sama dengan mengerdilkan kehidupan. Anda hanya sebesar yang mungkin bagi Anda. Maka, jangan katakan tidak mungkin bagi yang ingin Anda capai. Apa pun yang Anda inginkan, mungkinkan!”

17.
“Sedikit sekali hal yang lebih melukai hati pria yang penyayang, daripada perilaku seorang istri yang tidak menghormati suami. Mudah-mudahan Ibunda, istri, dan putri-putri kita tidak meresikokan hak mereka untuk berbahagia dengan mengabaikan keharusan untuk berlaku sama hormat dan penuh kasih-nya dengan pria pilihan hidup mereka. LOVE IS RESPECT, dan itu berlaku dua arah.”

18.
“WANITA YANG PALING PANTAS UNTUK DIMILIKI, JUSTRU TIDAK MUNGKIN DIKUASAI. Wanita yang mandiri, cerdas, penuh kasih, memuliakan pria dan anak-anaknya, adalah wanita idaman bagi pria yang ingin menjadi pembesar kehidupan. Tetapi, wanita seperti itu terlalu kuat untuk diperlakukan sembarangan oleh siapa pun, dan tak mungkin ikhlas menerima perlakuan buruk. Wanita, Anda berhak bagi kemuliaan. Tegaslah!”

19.
“Seumur hidup ini saya mengamati, ternyata banyak sekali orang yang dilemahkan jiwa dan kehidupannya oleh pelajaran salah. Untuk membangun kehidupan yang damai, sejahtera, dan berwenang. Kita harus MEMBONGKAR PELAJARAN SALAH, yang mengekang kita dari menginginkan yang terbaik, berdoa bagi yang terbaik, bekerja untuk mencapai yang terbaik, dan melembutkan hati untuk menjadi jiwa yang membahagiakan sesama.”

20.
“Aku tahu hatimu sedang pedih, karena jiwa yang kau cintai dan kau baktikan hidupmu untuknya, menaruhmu di urutan akhir dalam perhatiannya. Jika ia belum mampu memuliakanmu, engkau berharap setidaknya ia mengasihimu. Engkau hidup untuknya, tetapi mengapakah engkau seolah harus mengemis bagi sedikit perhatiannya? Adikku, bersabarlah. Indahkanlah dirimu, bagi Tuhanmu, yang akan menyelamatkanmu dari pengabaian.”

21.
“Karena kesahajaan hidup, sebagai pelajar SMA saya BERCITA-CITA MENJADI TUKANG LAS. Kemudian pendidikan saya memungkinkan yang lain, maka jadilah saya bankir muda di sebuah bank internasional di Jakarta. Tetapi, sebagai calon tukang las, saya dulu sama sekali tidak minder, karena saya yakin suatu ketika akan ada Mario Super Las dengan cabang di seluruh Indonesia. Bukan kecilnya awal, tetapi besarnya tujuan!”

22.
“Tidak semua yang kita inginkan bisa menjadi kenyataan. Tetapi untungnya, satu saja dari semua keinginan kita itu tercapai dengan baik, akan memampukan kita mendapatkan banyak hal yang kita inginkan. Berfokuslah pada pencapaian satu keinginan, yang pencapaiannya memungkinkan kita mendapatkan semua yang kita inginkan. Fokuskan semua yang terbaik untuk mencapai yang terbaik! Focus your best on the best!”

23.
“NRIMO ING PANDUM Jika sudah diberi, terimalah dengan ikhlas. Maka, PASTIKAN ANDA BERDIRI DI TEMPAT YANG PEMBERIANNYA BESAR. Apa ada orang yang bisa betul-betul ikhlas menerima pemberian kecil, saat yang lebih baik masih mungkin baginya? Baik itu tidak cukup, jika yang lebih baik masih mungkin. Upayakanlah yang lebih baik, terimalah dengan ikhlas hasilnya, untuk segera upayakan yang lebih baik lagi.”

24.
“Tahun 2000 saya mulai mengirimkan buletin sederhana, 3 halaman, gratis, setiap minggu kepada 32 alamat email. Buletin itu kemudian tumbuh dengan 30,000 pelanggan gratis dalam 36 minggu, yang kemudian menjadi MTSuperClub dengan 30,000 Super Members. 20 bulan yang lalu saya memulai MT Facebook yang hari ini (Agustus 2010) melayani lebih dari 2,041,000 Super Fans di dunia. Modal utama untuk apa pun adalah diri kita, bukan uang.”

25.
“Untuk sahabat saya YANG USIANYA SUDAH DI ATAS 40 TAHUN, janganlah berkecil hati. Tuntunan memulai bisnis sendiri sebelum usia 40 tahun adalah aturan umum. KITA BUKAN ORANG UMUM, terbukti kita masih sibuk bekerja untuk kesejahteraan keluarga dan terpaksa menunda memulai bisnis. Saya sudah 54 tahun, dan masih terus mencoba. Bagi yang sudah senior seperti kita ini, CARA TERBAIK UNTUK MULAI ADALAH MULAI.”

26.
“Orang yang ingin MANDIRI SECARA FINANSIAL dengan cara MEMILIKI BISNIS SENDIRI, harus memulainya SEBELUM USIA 40 TAHUN. Setelah usia 40 tahun, akan semakin sulit baginya untuk memulai. Karena, pertumbuhan kewajiban bagi keluarga dan menurunnya stamina fisik dan mental, bisa melambatkan dan mengacaukan pertumbuhan bisnis yang baru dimulai, atau bahkan menggagalkannya. Mulailah, SEMUDA MUNGKIN, segera!”

27.
“Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan. !!! ARTINYA !!! Tuhan yang menentukan, bahwa ANDA YANG BERENCANA DAN BEKERJA untuk memantaskan diri bagi doa Anda, AKAN MENDAPATKAN YANG ANDA DOAKAN. Maka, marilah kita bersikap lebih positif, dan menjadi jiwa yang membanggakan Tuhan karena kita patuh kepada-Nya, dan bekerja untuk menjadi rahmat bagi sesama. APA PUN TEORI ANDA, SEGERALAH BEKERJA!”

28.
“Orang yang sampai usia 40 tahun, MASIH BELUM JELAS DAN TEGAS mengenai kelas dan harga atas nilai dirinya bagi orang lain, karena menurutnya dia harus membuat perencanaan yang matang, sebaiknya SEGERA BERHENTI BERENCANA, BERHENTI BERTEORI, DAN MULAI HIDUP DENGAN SEPENUHNYA. Rentang usia dari 35 ke 40 tahun, seharusnya adalah masa penetapan harga yang tegas atas nilai diri kita sebagai makhluk ekonomi.”

29.
“Tiga tugas utama kita sebagai kekasih Tuhan: Meminta kepada Tuhan, Memantaskan diri untuk menerima, Menerima dengan kesyukuran. Meminta lagi yang lebih besar, Memantaskan diri untuk menerima yang lebih besar, Menerima dengan kesyukuran yang lebih besar. Tiga yang pertama akan memantaskan kita bagi tiga berikutnya yang lebih besar. Meminta, Memantaskan diri, Menerima dengan kesyukuran. Iman itu indah.”

30.
“Saya Takut Istri. Saya takut istri saya tidak berbahagia. Saya takut istri saya tidak tinggal di rumah yang nyaman. Saya takut istri saya khawatir tentang sekolah anak-anak. Saya takut istri saya naik kendaraan yang tidak aman. Dan yang saya paling takutkan adalah Ibu Linna khawatir mengenai kesetiaan saya kepadanya. Dengan penuh syukur saya katakan, bahwa saya takut istri.”

31.
“Tangan yang menggenggam tak kan bisa menerima pemberian baru. Maka mengapakah engkau meminta pengertian baru, dengan hati yang mempertahankan pendapat lama yang terbukti tak menguatkan hidupmu? Ikhlaslah untuk meninggalkan sikap dan pendapat yang kau pelihara, tapi yang tak memeliharamu. Janganlah berlama-lama hidup dalam pendapat yang salah. Cepatlah membaikkan dirimu. Engkau jiwa kebanggaan Tuhan.”

32.
“KEBIASAAN ADALAH HAL-HAL KECIL YANG DILAKUKAN SECARA TERATUR. Tetapi, setelah kebiasaan itu terbentuk, tidak ada orang yang bisa mengatakan bahwa kebiasaan adalah hal yang kecil. Keberhasilan kita ditentukan oleh KEBIASAAN BAIK yang tadinya hanya hal-hal kecil yang teratur kita lakukan, sebagaimana kegagalan juga disebabkan oleh KEBIASAAN BURUK. Berhati-hatilah dengan hal-hal kecil yang teratur Anda lakukan.”

33.
“KETEPATAN DALAM KECEPATAN adalah kualitas utama seorang pemimpin. Seorang yang sejatinya pemimpin, menghasilkan keputusan tepat dalam waktu yang pendek, yang lebih baik daripada peragu yang berpikir 1000 hari karena merasa lebih aman tidak bertindak. Seperti, Michael Schumacher adalah pribadi yang wajar melaju dalam kecepatan Formula 1, yang dianggap nekat oleh pengemudi pemula. KETEGASAN DATANG DARI KEAHLIAN.”

34.
“Orang disebut berani karena dia tidak mensyaratkan jaminan keamanan total sebelum dia bertindak. Orang yang aslinya peragu, mengharuskan adanya rencana yang rinci dan matang. Padahal, semua syarat keberhasilan di pasar telah berubah saat kita sibuk menyusun rencana yang rumit. Dia yang sejatinya berani, menyusun rencana sambil memulai. Keberanian adalah keikhlasan untuk TERJUN SAMBIL MEMBUAT SAYAP.”

35.
“SEANDAINYA SAJA KITA LEBIH BERANI, akan banyak hal yang kita capai dalam hidup ini. Marilah kita menghindari kebiasaan menakuti-nakuti diri sendiri mengenai resiko dari tindakan baik yang kita ketahui harus kita lakukan. Orang yang tidak melakukan karena takut gagal, sudah sama gagalnya dengan orang yang melakukan dan kemudian gagal. Padahal dengan ijin Tuhan, YANG MELAKUKAN YANG BERHASIL. Ikhlaslah.”

36.
“Seorang Ibu datang menghampiri dan berpesan agar saya tidak melukai hati Ibu Linna dengan berbagi hati. Saya sampaikan, saya tak mungkin melakukan itu, karena: 1. Saya sangat mengasihi Ibu Linna dan tak mampu membayangkan diri saya membuatnya sedih 2. Ibu Linna berperan lebih besar daripada yang bisa saya minta dalam kehidupan saya dan anak-anak 3. Dan saya takut Ibu Linna! Agak lebay ya?, … but this is true.”

37.
“Ibu Linna datang dari keluarga yang cukup berada, sejak kecil sekolah di luar negeri, lulus MBA pada usia 22 tahun di San Francisco, dan menjabat Direktur Marketing di sebuah bisnis di Jakarta. Saat saya resign dari VP Bank, Ibu Linna juga resign agar bisa mendampingi saya bekerja mewujudkan pelayanan yang sekarang menjadi MTSC ini. Kelihatannya, REZEKI BERLAKU SETIA kepada jiwa yang setia kepada keluarganya.”

38.
“Saat itu saya terlalu muda dan hidup terlalu cepat untuk cukup menabung sebelum saya resign, dan hanya tersisa uang untuk kontrak garasi itu, dan DP sebuah sedan kecil. Kami hidup sangat sederhana. Saya makan sarden hampir setiap hari, sampai badan saya licin dan berenangnya cepat sekali. Dan Ibu Linna bertahan bersama saya. Itu sebabnya kini dia menjadi PEMILIK SATU-SATUNYA dari semua yang saya capai.”

39.
“Di garasi kecil itu kami hidup sangat sederhana. Tapi saya telah siapkan beberapa modal andalan, seperti: Nama dan hubungan luas yang saya bangun saat menjabat, kompetensi profesional sebagai perencana strategis dan taktis pengembangan bisnis, reputasi sebagai pelatih dan motivator. Dan satu SENJATA RAHASIA SAYA, adalah Ibu Linna. Dan saya bersaksi, bahwa SUAMI YANG MEMULIAKAN ISTRI, DOA-DOANYA MUDAH DIJAWAB.”

40.
“Masih dalam rentang 35-40, pada usia 37 tahun saya mengundurkan diri dan mengembalikan semua fasilitas sebagai Vice President di Bank. Kami baru menikah, dan saya sangat berhutang kepada Ibu Linna yang ikhlas memulai hidup di sebuah garasi 2.5 X 10 meter, yang saya kontrak sebagai pengganti rumah besar seorang pejabat Bank. Dari situ kami berdua membuktikan, bahwa KEAJAIBAN BERPIHAK KEPADA JIWA YANG BERANI.”

41.
“Sejak muda, saya ingin bekerja keras untuk mencapai pangkat profesional setinggi mungkin dan semuda mungkin, UNTUK SEGERA BERHENTI. MT Muda tidak bisa membayangkan dirinya menjadi pegawai seumur hidup, bukan karena uangnya, tapi karena ingin melayani publik DALAM PEKERJAAN YANG SAYA TETAPKAN SENDIRI. Meninggalkan jabatan yang baik, memang tidak mudah, tetapi jika untuk misi hidup, dengan ijin Tuhan … HARUS !”

42.
“Setelah menjadi Vice President di Bank menjelang usia 34 tahun, saya memasuki tahap kedua dari Personal Rule ini yaitu Dari usia 35 - 40 tahun, saya MENETAPKAN HARGA untuk pelayanan saya yang TIDAK BISA DITAWAR. Pada saat-saat awal saya menetapkan aturan ini, hidup menjadi tak terlalu mudah, tetapi KEBAIKAN PASTI DATANG KEPADA YANG MENGHORMATI DIRI DAN NILAI PELAYANANNYA yang menguntungkan orang lain.”

43.
“MT Personal Rule 35-40-45 Sejak muda saya belajar dan bekerja keras TIDAK UNTUK MENCARI UANG sampai usia 35 tahun. Saya tidak mendasarkan keputusan pribadi dan karir atas jumlah uang, tetapi atas kegunaannya bagi kekuatan jiwa, kebaikan nama, dan kompetensi profesional saya. Jika kita tidak berfokus pada uangnya, kita MENJADI LEBIH PANTAS DIBAYAR LEBIH MAHAL DAN LEBIH AWAL. Bagaimana dengan yang 40?”

44.
“Hidupmu itu bukan hanya untuk bersemangat. Janganlah kegentinganmu untuk mengobarkan semangat diri, justru mengalahkan keharusanmu untuk mampu bekerja dalam semangat apa pun. Engkau justru disebut jiwa yang paling bersemangat, jika engkau tetap bekerja saat hatimu hampa semangat dan ragamu ingin tenggelam dalam kematian sesaat yang namanya tidur itu. Tindakan adalah bentuk asli semangat.”

45.
“Saat engkau lantang meneriakkan tanda kesungguhan niatmu, Aku bisa! Aku pasti bisa! Pastikanlah sebelum itu hatimu berbisik, Dengan ijin Tuhan … Dan jika engkau lebih ikhlas, katakanlah sebagai sebuah doa yang anggun, Dengan ijin Tuhan, aku akan bisa … Dan setelah reda gempita sorak sorai mu, bisikkanlah dengan tulus dan penuh kasih kepada Tuhanmu, Amien … ya Tuhan. Rendah hati itu indah.”

46.
“Ada orang yang berangkat bekerja untuk mencapai keberhasilan. Tapi ada yang berangkat agar tidak terlambat, tidak dimarahi, atau agar asal kelihatan ada. ANDA HANYA SEPENTING ALASAN ANDA. Semakin kuat alasan Anda, akan semakin kuat dan besar upaya dan kemungkinan Anda. Tetapkanlah alasan bagi kerja keras Anda, bagi semua beban yang Anda pikul, dan alasan bagi pencapaian semua impian Anda.”

47.
“Tak mudah bagi siapa pun untuk meyakini masa depan yang baik, jika keberadaannya disepelekan dan ketulusan hatinya ditelantarkan. Wahai jiwa yang letih, yang berjalan menunduk dan nafas beratnya bertanya mengapakah hidup ini tak berlaku ramah, Sesungguhnya kesedihanmu sedang menyiapkan rongga besar di hatimu, sebagai penampung kebesaran hidupmu nanti. Bertahanlah. Menangislah setulusmu, tetapi bertahanlah.”

48.
“Janganlah kau ijinkan penyesalanmu atas kesalahan dan kegagalan di masa lalumu, melemahkan semangat hidupmu hari ini. MASA LALU BUKANLAH PENENTU MASA DEPAN. Ikhlaskanlah dirimu untuk tidak mengulangi kemarahan yang merusak hubungan, keputusan yang ceroboh, dan bicara yang tidak berhati-hati. Masukilah masa depan yang baru, sebagai jiwa yang baru. Engkau jiwa baik yang berhak bagi kebahagiaan.”

49.
“Keinginan Anda adalah sebuah kemungkinan yang menunggu pembuktian. Apa pun yang Anda inginkan, buktikan bahwa ia pantas untuk diinginkan. Upayakanlah pencapaiannya. Janganlah menyiksa diri dengan keinginan besar yang tidak segera diikuti dengan kesibukan yang menjadikan Anda dihargai dengan baik. Yang Anda kerjakan adalah pembangun nilai Anda, yang menjadi pewujud keinginan Anda.”

50.
“Bagaimana orang bisa membantumu mengerti cara memperbaiki keadaanmu, jika engkau membenci kekayaan, menerima kemiskinan sebagai nasib, dan meyakini ketidak-adilan atas dirimu? Kemiskinan adalah keadaan sementara yang seharusnya menjadikanmu kuat, dan upaya adalah yang mengeluarkanmu dari kemiskinan dan yang menjadikanmu pribadi kaya yang menguatkan kehidupan sesama. Keikhlasanmu menentukan kebaikanmu.”

51.
“Kesabaran adalah pengertian baik yang mengutuhkan doa, tindakan, dan penantianmu. Sabar itu sibuk. Engkau yang sibuk belajar dan bekerja, tak akan sempat memikirkan kesabaran. Dan Tuhan melihatmu dengan haru, karena dalam penantianmu engkau menyibukkan dirimu dalam pergaulan dan pekerjaan yang berguna. Wahai jiwa yang damai, Kesabaranmu adalah tanda keikhlasanmu dalam menerima kepastian janji Tuhan.”

52.
“Hidup ini memang sementara, jika dibandingkan dengan panjangnya keindahan hidup akhirat. Tetapi, berapa lamakah kita boleh menderita dalam rasa sakit, kemiskinan, dan ketertindasan di dunia ini? Pengertian mengenai kesementaraan hidup, bukanlah ijin untuk menelantarkan kehidupan dunia. Kehidupan dunia yang memuliakan keluarga dan sesama sebagai bukti iman kepada Tuhan, adalah jalan indah menuju surga.”

53.
“Ada anak muda berkata bahwa saya berbicara penuh nasehat, karena belum pernah miskin dan menderita. Lalu saya ceritakan bahwa sebagai anak muda, saya dulu miskin, minder, dan takut masa depan. Dia membantah lagi dan berkata bahwa tidak mungkin saya lebih miskin darinya. Lho, khoq jadi lomba miskin-miskinan? Berhentilah berfokus pada penderitaan, segera lakukan sesuatu untuk keluar dari penderitaan.”

54.
“Hidup ini seperti main kartu. Bukan kualitas kartu yang kita pegang yang menentukan kemenangan, tetapi bagaimana kita memainkan kartu apa pun yang kita pegang. Pribadi sederhana yang jujur dan ikhlas bekerja keras melayani sesama, akan mengalahkan pewaris kerajaan yang suka mengeluh dan malas. Marilah kita berhenti mengeluhkan ketidak-pastian masa depan, dan melebihkan yang bisa kita lakukan hari ini.”

55.
“Janganlah engkau meniru mereka yang menggelar pameran dan pesta glamorous untuk mengumumkan kesucian cinta mereka, hanya untuk berakhir sebagai santapan penuh suka cita bagi para pemberita aib sesama. Bukan mahalnya biaya cinta, yang melanggengkan keindahan dari kebersamaanmu berdua, tetapi kesederhanaan yang ikhlas dari hatimu untuk setia kepada janjimu. Pengkhianatan selalu melukai hati yang baik.”

56.
“Tugas para malaikat dipermudah oleh orang yang hatinya ikhlas. Tugas setan dipermudah oleh orang yang santai merusak kesehatannya sendiri dengan kesenangan palsu, yang merusak hubungan baik, yang menelantarkan kasih sayang, dan yang suka menjadi parasit yang merepotkan orang lain. Marilah kita berdoa agar hati kita dimudahkan untuk menerima nasehat baik, meniru teladan baik, dan ikhlas membarukan diri.”

57.
“Ketertarikan gila saat pertama cinta ditemukan, memang mudah menyatukan dua pribadi yang sangat berbeda untuk berjanji setia sepanjang hidup. Hanya saja, panjangnya hidup yang dilihat oleh mata yang mabuk cinta, bisa jadi sangat pendek. Itu sebabnya cinta saja tidak cukup. PERSAHABATAN dan LOGIKA YANG JERNIH antara dua jiwa itulah yang memanjangkan cinta mereka menjadi kebersamaan yang membahagiakan.”

58.
“Wanita adalah kesatuan yang indah dari tiga peran penting dalam hidup pria-nya. Yang pertama, sebagai kekasih, Yang kedua, sebagai sahabat, dan yang ketiga, sebagai ibu. Seorang pria tidak membutuhkan wanita petengkar di dalam rumahnya. Dia ingin manja dan menyerah kepada wanita yang memelihara dan membangunnya menjadi pemimpin kehidupan yang besar. Pria bermasa-depan besar selalu manja kepada wanitanya.”

59.
“Orang yang menyesal, sakit hati, atau tersiksa - tetapi segera bekerja keras setelah berdoa, lebih mudah mencapai kedamaian. daripada orang yang hanya meleleh dalam ratapan dan keluhan - tetapi tidak melakukan apa pun untuk mencegah terjadinya masalah yang sama. Ingatlah, semua penderitaan adalah pemberitahuan untuk memperkuat diri, Seperti semua kesenangan adalah pemberitahuan untuk berhati-hati.”

60.
“Wanita, hanya yang masih ABG yang mencari pria yang tampan. Setelah mengerti kesulitan hidup, wanita menjadi lebih tertarik kepada pria yang penyayang, yang anggun memperlakukannya, yang berpotensi baik menjadi pemimpin dan penyejahtera keluarga. Seperti Ibu Linna, dia tidak memilih saya karena ketampanan, tetapi dia pandai melihat POTENSI :) Yang diinginkan wanita adalah yang terbaik bagi keluarga.”

61.
“Jika Anda ingin mengerti keindahan dari kebebasan, menarilah seperti tidak ada yang melihat, menyanyilah seperti tidak ada yang mendengar, dan mencintailah seperti cinta itu tidak akan menyakitkan. Janganlah batasi ukuran dan kualitas hidup yang bisa Anda capai, hanya karena orang lain meragukan Anda. Karena, seandainya Anda gagal, apakah mereka akan bertanggung-jawab? Ini hidup Anda, tegaslah.”

62.
“Serahkanlah semua yang berada di luar kemampuanmu kepada Tuhan, yang adalah sebaik-baiknya wakil dan penyelesai masalahmu. Tetaplah menjadi jiwa yang baik. Ingatlah, kebaikan adalah jalan kebahagiaan. Bersama dengan dilakukannya sebuah kebaikan, terbuka sebuah pintu di langit yang menuangkan nikmat kesurgaan kepada yang melakukan kebaikan. Hadiah pertama bagi yang melakukan kebaikan adalah kebaikan.”

63.
“Sahabat yang hatinya baik, MUDAH-MUDAHAN ANDA TERMASUK PRIBADI YANG SIBUK. Karena, Dia yang lemah dan paling kecil, tetapi sibuk akan lebih berhasil daripada dia yang kuat dan cerdas tetapi peragu dan malas. Tugas kita bukanlah untuk berhasil. TUGAS KITA ADALAH UNTUK MENCOBA, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.”

64.
“Engkau datang kepadaku sebagai jiwa yang gelisah dan berawan tangis merindukan pembebasan dari gelisahmu. Hentikanlah kebiasanmu menduga keburukan yang akan terjadi kepadamu dan jangan lagi melihat dirimu sebagai korban. Engkau pemimpin hidupmu sendiri. Pikirkanlah yang baik-baik, katakanlah yang baik-baik, lakukanlah yang baik-baik, dalam pergaulan dan pekerjaan yang baik. Engkau jiwa yang indah, damailah.”

65.
“Sahabat Indonesia yang hatinya baik, katakanlah MOTIVASI ADALAH KEKUATAN yang menjadikanku memulai tanpa keinginan memulai, mendahulukan yang ingin ku tunda, menyikapi kesulitan sebagai peningkat kelas, meneruskan walaupun aku ingin berhenti, bekerja lebih kuat daripada rasa malasku, melakukan yang ku takuti, dan untuk tetap berupaya mengatasi ketidak-mungkinan, agar aku menjadi jiwa kecintaan Tuhan.”

66.
“BERBICARA YANG BERNILAI ITU TIDAK MUDAH. JIKA MUDAH, SUDAH BANYAK ORANG KAYA KARENA BICARA. Asal bicara itu memang mudah, tetapi berbicara yang meningkatkan kelas diri dan kualitas kehidupan sesama, bukanlah untuk setiap orang. Bukankah Ir. Soekarno menyatukan dan membakar semangat rakyat untuk memerdekakan bangsa, dengan berbicara? Bukankah Tuhan mengajarkan yang belum kita ketahui dengan kalam?”

67.
“Cinta memilihmu karena engkau berbakat tuk membangun kehidupan yang hebat. Tetapi bakat itu tak kan kau gunakan tuk melampaui keraguan dan batasan pikiranmu, jika engkau tak dibutakan dari perasaan, pikiran, dan kenyataan yang selama ini membatasimu. Cinta membebaskanmu untuk menjadi dirimu yang terbaik. Sehingga sesungguhnya, yang terpenting dalam mencintai adalah dirimu, bukan orang yang kau cintai.”

68.
“Ooh … cintamu diabaikan? Engkau patah hati dan merasa dunia tak berarti lagi. Kemudian kau kasihani dirimu dengan ratapan dan air mata, kau rusak kesehatanmu sendiri, yang menjadikanmu tak menarik bagi calon kekasih baru yang lebih baik dan memuliakanmu. Apa yang membuatmu demikian yakin bahwa tak ada orang lebih baik daripada dia yang telah menyepelekan cintamu? Engkau berhak bagi yang lebih baik.”

69.
“Banyak orang yang sesungguhnya HIDUP DALAM KESUNYIAN DAN NYARIS MENYERAH. Berkasih-sayanglah. Bukannya mereka belum berupaya dan mencoba banyak cara. Tetapi mereka sering dikejami oleh wajah-wajah yang dingin dan dilukai dengan kata-kata yang tajam. Lembutkanlah bicaramu. Jiwa-jiwa letih itu sedang menggembirakanmu dengan senyuman yang mengambang di atas air mata. Indahkanlah wajahmu bagi mereka.”

70.
“BAIKNYA AKHLAK adalah BAIKNYA KEHIDUPAN Janganlah kau boroskan tenagamu untuk menuntut perbaikan akhlak orang lain, tetapi melupakan pengindahan akhlakmu sendiri. TIDAK ADA PERBAIKAN LINGKUNGAN YANG BISA BERDAMPAK BAIK, BAGI ORANG YANG TIDAK MEMPERBAIKI DIRI. Maka tegakkanlah akhlaqmu, agar Tuhan menggunakanmu untuk menegakkan agamamu, yang akan menjadikanmu penerima bahkan sebelum engkau meminta. Amien..”

71.
“Sebagai bangsa, kita telah lama merdeka, tetapi masih banyak jiwa Indonesia yang belum merdeka dari perasaan, sikap, dan kebiasaan yang melemahkan kehidupan. Sejatinya kita merdeka, dan berhak untuk hidup damai dan sejahtera, tetapi belum mengupayakannya dalam tanggung-jawab pribadi yang ikhlas dan tegas. Jangan lagi menanti keteladanan siapa pun. KITA PEMIMPIN KEHIDUPAN KITA SENDIRI. Bergeraklah.”

72.
“JIKA KITA LEBIH TEGAS DAN BERANI, kita akan memimpikan yang besar, merajinkan diri untuk menjadi pandai dan ahli, mengajukan diri untuk pekerjaan yang membesarkan kehidupan sesama. JIKA KITA LEBIH TEGAS DAN BERANI, kita akan mengambil tugas yang lebih besar, dan tidak memantaskan diri untuk dihargai kecil. KEBERANIAN ADALAH BENTUK DOA YANG MENGUNDANG CAMPUR TANGAN TUHAN. Tuhan, dampingilah kami. Amien”

73.
“Sahabat saya yang hatinya baik, Marilah kita bimbing jiwa muda Indonesia untuk bersemangat tinggi mencapai kehidupan yang baik, agar mereka menjadi pembangun dan pemulia bangsa. Janganlah mereka hanya dipaksa dan dilombakan untuk hafal hal-hal yang tidak berhubungan dengan kebaikan hidup mereka di masa depan. Jika mereka rindu kebaikan, semua hal yang mereka lalui akan mereka perbaiki.”

74.
“JANGAN MENUNGGU HARI PERHITUNGAN, karena hari itu SUDAH SAMPAI. Semua sikap, pikiran, dan tindakan kita SUDAH DIPERHITUNGKAN, dan sudah digunakan untuk menetapkan kualitas hidup kita. Perhatikanlah kualitas hidup kita DETIK ini. Yang malas dan hanya menunggu diberi, menjadi pribadi yang mengeluh dan marah. Yang jujur dan bekerja keras, menjadi pribadi yang damai dan tercukupi.”

75.
“SIAPA BILANG BAHWA IKHLAS ITU TIDAK DIBAYAR? Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama, dan sebaik-baik pembayar adalah Tuhan. Maka jiwa yang ikhlas hidup dan bekerja bagi kebahagiaan sesamanya, akan diurus bayarannya LANGSUNG oleh Tuhan. Dan jika Tuhan membayar, Dia membayar dengan kesehatan, kedamaian, kesejahteraan, keluarga, dan derajat yang tidak bisa dibeli oleh siapa pun. Amien.”

76.
“MANUSIA ITU TEMPATNYA IKHLAS DAN BENAR. Manusia yang tidak berhati-hati, akan menjadi tempat salah dan khilaf, dan itu yang membuatnya selalu menasehati diri untuk menerima kelemahan. Manusia yang menjaga keterhubungan hatinya dengan Tuhan, akan lebih mudah mengikhlaskan diri terlibat dalam pergaulan dan pekerjaan yang bermanfaat, dan dengannya dia lebih sering benar. JIKA BISA BENAR, UPAYAKAN BENAR.”

77.
“BICARA ITU GAMPANG, TAPI PRAKTEKNYA SULIT adalah hukum yang membedakan antara pribadi baik yang ikhlas, dari pribadi yang sama baiknya tetapi yang belum ikhlas. Yang benar-benar ikhlas, segera bertindak dan membuktikan nilai dari nasehat baik. Yang belum ikhlas, menganalisa kesulitan dan ketidak-mampuan, lalu menyimpulkan tidak ada gunanya mencoba. JIWA YANG BESAR IKHLASNYA, BESAR REZEKINYA. Amien.”

78.
“DUA KESALAHAN UTAMA YANG MELEMAHKAN REZEKI ORANG BAIK: 1. FOKUS YANG SALAH, Memfokuskan waktu dan kekuatan pada urusan yang tidak menjadikannya bermanfaat bagi sesama. 2. PRIORITAS YANG SALAH, Mendahulukan yang seharusnya diakhirkan, dan mengakhirkan yang seharusnya pertama.”

79.
“Malam ini, bisikkanlah.. Aku datang menghadap Mu, Tuhanku, tuk menyerah dan mohon penyelamatan, Aku mohon Kau maafkan salah dan dosa masa laluku, yang setia mengejar tuk menggigitku dari belakang.. Penyesalan ini membadai di hatiku dan melemahkan niat hidupku. Kini aku jiwa yang lebih baik yang lebih patuh kepada Mu, Jangan Kau biarkan aku lama bersedih. Aku sangat menghamba kepada Mu.. Tuhan, sayangilah aku..”

80.
“Imanmu itu bukanlah untuk mendiamkanmu dalam tidak adanya tindakan. Imanmu itu untuk menjadikan setiap helai ototmu, setiap helaan nafasmu, dan setiap tetes peluhmu, sebagai kekuatan yang memperbaiki kehidupan, agar anakmu bermain ceria di sungai bening yang aman, agar sesamamu bebas dari rasa takut dan lapar, dan agar alam ini terjaga indah bagi cucumu. Seharusnya, imanmu mengarifkan kehidupanmu.”

81.
“Dalam kantuk dan lemahnya raga yang letih, jiwa ini pun mengendap dalam keheningan yang redup. Dan kesadaran pun mewujud bahwa kita tak mungkin sepenuhnya kuat dan mampu mencapai kebaikan hidup ini tanpa bantuan. Dalam saat seperti ini, lebih jelas terlihat bahwa kesetiaan kepada yang benar, adalah penjamin kedamaian dan pemasti datangnya pertolongan. Terima kasih Tuhan, atas kedamaian hati ini.”

82.
“HIDUP INI TIDAK BOLEH SEDERHANA. Hidup ini harus HEBAT, KUAT, LUAS, BESAR, dan BERMANFAAT. Yang sederhana adalah SIKAPNYA. Kapan kita bisa membangun bangsa dengan peradaban yang terhormat di dunia, jika setiap warganya menerima hidup yang lemah sebagai sederhana? Setiap jiwa berhak bagi kesejaheteraan, tetapi tidak setiap jiwa ikhlas MENJUJURKAN DIRI dan BEKERJA KERAS bagi kebaikan hidupnya sendiri.”

83.
“bisikkanlah dalam doamu, Tuhanku Yang Maha Pengasih, Tabahkanlah hatiku yang rapuh ini, agar aku tetap meyakini yang ku tahu sebagai yang benar, ikhlas melakukan yang ku tahu harus ku lakukan,sabar menghadapi orang-orang yang sulit, dan tegar melampaui masalah, agar aku sampai di lembah hijau pembahagiaanku. Tuhanku, Hatiku yang letih ini rindu istirahat dalam kedamaian. Sayangilah aku.”

84.
“Jika engkau hanya MENEMPATKAN YANG BELUM KAU MILIKI SEBAGAI YANG KAU INGINKAN, maka pantas sulit bagimu untuk mensyukuri semua kebaikan yang telah kau miliki. Hentikanlah sejenak pengejaranmu. Gembirakanlah jiwa-jiwa dalam keluargamu, yang sesungguhnya adalah keindahan yang telah dirahmatkan kepadamu, tetapi yang LUPA KAU INGINKAN. INGINKANLAH YANG TELAH KAU MILIKI, lalu perhatikan apa yang terjadi.”

85.
“Sejatinya impianmu itu indah, tetapi kau biarkan layu karena hatimu lebih takut, daripada ikhlas melakukan yang bisa kau lakukan. Ini impianmu. Engkau tak bisa mewakilkan pencapaiannya. Semua keberhasilan yang kau impikan itu, berada di balik semua hal yang kau takuti. Mulai hari ini, justru lakukanlah yang kau takuti. Engkau yang berani yang berhasil. Berani adalah ikhlas melakukan yang benar.”

86.
“Sahabatku yang baik hati, Engkau harus menerima kemungkinan datangnya kekecewaan, tetapi engkau harus lebih meyakini kepastian pemenuhan harapan. Harapan adalah kekuatan yang meringankan bebanmu, dan membuka pandanganmu jauh ke masa depan. Harapan adalah jembatan yang menghubungkan antara satu doa dengan doa-doamu yang berikutnya. Dan, harapan adalah tali kehidupan yang menghubungkanmu dengan Tuhan.”

87.
“KESABARAN KITA TERHADAP SETIAP ORANG TIDAK SAMA. Kita bisa mudah bersabar terhadap seseorang, tetapi amat sangat cepat marah terhadap seseorang yang lain. Mungkin kita menyimpan kekesalan dengan tingkat yang beragam terhadap jiwa-jiwa dalam hidup kita. Jika Anda cepat marah terhadap jiwa tertentu, sebaiknya Anda memeriksa kualitas hati Anda baginya, terutama jika dia adalah kekasih hidup Anda.”

88.
“Dibutuhkan hati kusam dan pikiran kelam, untuk mengkelas-kelaskan sesamanya berdasarkan uang, harta, dan kekuasaan. KEINDAHAN HIDUP DIBANGUN DENGAN HATI YANG BENING DAN PIKIRAN YANG JERNIH. Dalam pandangan Tuhan, seorang kaisar yang tidak jujur - berada di bawah kelas anak muda sederhana yang berhati bening dan berpikiran jernih. Hidup ini bukan TINGGI-TINGGIAN atau KAYA-KAYAAN, tetapi BAIK-BAIKAN.”

89.
“APAKAH DUA ORANG DENGAN PENGHASILAN YANG SAMA, AKAN BERBAHAGIA DENGAN KUALITAS HIDUP YANG SAMA? Tidak. Meskipun uang penting untuk membiayai kehidupan yang baik, tetapi UANG BUKAN PENENTU KUALITAS HIDUP. Kualitas hidup kita ditentukan oleh KEBAIKAN YANG MENDASARI KEPUTUSAN KITA, dalam hubungan kita dengan orang lain dan dalam respon kita terhadap keadaan dan kejadian.”

90.
“Janganlah berkecil hati dan hanya mengeluh karena kecilnya gaji. GAJI ADALAH SEBAGIAN YANG SANGAT KECIL DARI KESELURUHAN REZEKI TUHAN yang disiapkan untukmu. PIKIRKAN dan TEMUKANLAH sesuatu yang bisa kau lakukan untuk membantu orang lain membersihkan, memperbaiki, memperkuat, dan melengkapi kehidupan mereka. Ingatlah, PEKERJAAN ADALAH PINTU LEMARI REZEKI. Ikhlas dan jujurlah dalam pekerjaanmu.”

91.
“SEGERA SETELAH ENGKAU MENGUMUMKAN bahwa engkau akan menjadi pribadi yang sabar, akan dikirimkan kepadamu orang atau keadaan yang mengharuskanmu bersabar. SEGERA SETELAH ENGKAU BERDOA MEMINTA UANG, akan dikirimkan kepadamu orang atau keadaan yang mengharuskanmu bekerja agar engkau dibayar. Jika engkau sudah mengerti ini, apakah masih akan kau liarkan kemarahanmu, atau kau mewahkan rasa malasmu?”

92.
“Adikku yang hatinya baik, Engkau tak boleh terlibat dalam pekerjaan yang tak memiliki UKURAN BESAR DI MASA DEPAN. Sebuah pekerjaan tak bisa kau sebut kecil, apabila tersedia ukuran besarnya bagimu - jika engkau setia, jujur, dan rajin mengerjakannya. Janganlah memilih pekerjaan hanya karena bayarannya lebih besar sekarang, tetapi yang akan memenjaramu dalam janji-janji lumpuh dan harapan semu.”

93.
“ORANG YANG SEDANG BERADA DALAM LUBANG, HARUS BERHENTI MENGGALI. Tidak sedikit orang yang hari ini berada dalam kesulitan, justru bersikap dan berlaku yang semakin mempersulit keadaannya. Dia menelantarkan kepercayaan, melakukan yang justru dilarang, dan menyalahkan siapa pun kecuali dirinya. Dia tidak merasa salah. Dalam hati kita bertanya, Jika engkau demikian benar, mengapakah hidupmu belum baik?”

94.
“PENGERTIAN ADALAH ILMUNYA KEHIDUPAN. Orang yang baik pengertiannya akan baik perilakunya, dan karenanya didamaikan dan disejahterakan hidupnya. Dia tidak menuntut penjelasan total mengenai kebaikan, sebelum dia ikhlas membaikkan hati dan pikirannya. Dia mengerti bahwa KEBAIKAN ADALAH WAJAH TERDEKAT DARI KEAJAIBAN BESAR yang tak mungkin sepenuhnya dimengertinya. Jika untuk kebaikan, ikhlaslah.”

95.
“SETIAP JIWA BERHAK BAGI KEDAMAIAN DAN KESEJAHTERAAN. Tetapi tidak setiap jiwa hidup dengan cara yang memantaskan dirinya untuk menjadi damai dan sejahtera. Ada yang mengasari orang lain agar berlaku damai kepadanya. Dan ada orang malas yang mengharuskan orang lain untuk rajin menggajinya. Berlaku penuh kasih adalah JALAN KEDAMAIAN, dan menjadi pribadi yang bermanfaat adalah JALAN KESEJAHTERAAN.”

96.
“Harapan adalah kekuatan yang memperpanjang usia. Kehidupan ini menghadiahkan keceriaan dan kesehatan kepada jiwa yang mengharapkan pertumbuhan pada jiwa lain yang dikasihinya, yang jerih payahnya untuk memastikan agar dia bisa melihat pertumbuhan itu esok pagi, dan setiap hari setelahnya. Ibunda dan Ayah tak putus berharap bagi kebaikan hidup kita. Tuhan, panjangkanlah usia orang tua kami. Amien.”

97.
“Dan engkau bertanya kepadaku, apakah masih ada kesempatan bagimu untuk membangun hidup yang damai dan sejahtera dengan masa lalu-mu yang banyak salah? Adikku, maafkanlah dirimu. Engkau ini jiwa ranum yang sangat baik, yang dulu pernah salah, dan yang sedang belajar memuliakan diri. Jangan lukai dirimu lagi. Engkau jiwa kecintaan Tuhan. Tersenyumlah. Masa depanmu ditentukan oleh kebaikanmu hari ini.”

98.
“Kehadiran Anda akan selalu dirindukan, jika Anda menggunakan nama yang baik, berbicara dengan bahasa yang indah, dan berlaku ramah kepada hati orang lain. Sebutlah nama mereka dengan nada yang penuh kebaikan, senangkanlah mereka dengan terima kasih, pujian, dan anjuran ramah yang membangun. Pastikanlah mereka meninggalkan Anda dengan hati yang lebih bergembira daripada saat mereka datang menemui Anda.”

99.
“Pelajaran yang mencemerlangkan kehidupan, datang dari keikhlasan untuk bekerja menyelesaikan kekhawatiran, dan dari keberanian menghadapi rasa takut dengan semua kekuatan kita. Bukan kekhawatiran dan ketakutan yang mengerdilkan kehidupan, tetapi tidak adanya tindakan dalam rasa khawatir dan takut itu. Janganlah menunggu sampai berani, sebelum Anda bertindak. Anda beriman. Berdoalah dan bertindaklah.”

100.
“Janganlah melatih suami Anda untuk melihat wanita lain lebih menarik, lebih menghormatinya dan lebih meyakini keberhasilan masa depannya. Apa pun kekurangan suami Anda, Anda tidak boleh membatalkan kemungkinannya untuk menjadi suami yang memuliakan istri, ayah yang menghebatkan anak-anak, dan pribadi yang membesarkan kehidupan sesama. Wanita adalah pemulia kehidupan. Jika untuk kebaikan, bersabarlah.”

101.
“Kapankah terakhir kali Anda keluar makan dan berbicara dalam suasana pacaran dengan istri Anda? Nikmatilah keindahan dari kemudaan istri Anda sekarang dan segera, jangan menunda sampai tua dan sakit-sakitan nanti - untuk bepergian berdua dan saling bertanya apakah sudah minum obat? Jika Anda membiasakan diri mensyukuri keremajaan pernikahan Anda, Anda berdua akan selalu mesra sampai di surga.”

diunduh dari : http://goooo.blogdetik.com/2011/03/20/101-kumpulan-kata-kata-bijak-mario-teguh/


[+/-] Selengkapnya...

Sepenggal Cerita Ramadhan 1432 H Kami....

Ramadhan 1432 H tahun ini yang bertepatan dengan Agustus tahun 2011, banyak sekali meninggalkan cerita. Baik dari cerita suka maupun cerita duka. Meskipun saya jarang menulis sendiri di blog ini, namun untuk kali ini saya harus bisa !! Saya harus menuliskan cerita ‘bersejarah’ ini..!!

Pada saat mendengarkan ceramah subuh di Masjid Hidayatussolihin, sekitar jam 05:15 WIB, saya dikejutkan dengan kehadiran Cecek Nada, anak saya yang pertama, yang datang membisikkan kalimat “Pa..Yai meninggal..”. Tidak ada kata-kata yang saya ucapkan kecuali Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un.. dan langsung pulang ke rumah menemui istri saya yang sedang menangis. Kondisi Papa di tahun 2011 memang semakin memburuk. Stroke yang dialaminya semakin parah. Papa tidak bisa bangun lagi dari tempat tidur, makan pun sudah susah. Kami sekeluarga hanya bisa berdo’a kepada Allah SWT untuk diberikan yang terbaik bagi kami semuanya. Dan jawabannya mungkin inilah yang terbaik... kami hanya bisa berdoa semoga Papa kami bisa diberikan tempat yang layak disisi-Nya, diterima amal ibadahnya dan diampuni segala dosa-dosanya..Amiin.

Di Ramadhan tahun ini, ada juga cerita bahagia dalam keluarga kami. Anak-anak kami sudah berpuasa, kecuali si kecil KGS. M. KHOIRUS SYAMIL yang masih berusia 1 tahun. Yang paling mengagumkan adalah anak saya yang ke tiga KGS. M. INSAN ‘ALIMAN yang baru mulai berpuasa tahun ini, sudah bisa melaksanakan puasa 29 hari. Amazing...!! kami tidak menyangka karena usianya masih 4 tahun. Dan untuk anak-anak kami yang lain NYAYU NADIDA ADLINA ATTHOHIRO dan KGS. M. ADLAN AZZIKRA kami acungi ‘jempol’. Mereka telah berpuasa sebulan penuh tanpa ada yang ‘bolong’. Terima kasih ya Allah.. semoga Engkau karuniakan kami anak-anak yang soleh dan soleha, yang selalu taat kepada MU dan berbakti kepada kedua orang tuanya Amiiin.

[+/-] Selengkapnya...

My Dreams........

1. BAHAGIA DI DUNIA DAN SUKSES DI AKHIRAT...
2. BERSABAR KALA MENDAPAT COBAAN....
3. BERSYUKUR KALA MENDAPAT CURAHAN NIKMAT...
4. SELALU MENJADI LEBIH BESAR DARI MASALAH....
5. MENJADI MANUSIA YANG BERMANFAAT BAGI MANUSIA LAINNYA....
6. HASBUNALLAH WANI’MAL WAKIIL, NI’MAL MAULA WANI’MAN NASHIIR..
7. MEMILIKI KELUARGA YANG PENUH DENGAN KASIH SAYANG..
8. MEMILIKI ANAK-ANAK YANG MENJADI ‘QURROTA A’YUN’....
9. SELAU DAN SELALU BERBAKTI KEPADA ORANG TUA...

Allahumma Taqobbal Minna Innaka Antassamii'ul 'Aliim.....

[+/-] Selengkapnya...

Thank's God..

Hari ini adalah hari yang cukup berkesan bagi saya. Menjelang hari lebaran idul adha, Allah memberikan sentilan kepada saya.

Pada saat Shalat Ashar di salah satu mesjid yang berada di kawasan Rumah susun, sepatu yang saya pake sebelum shalat hilang digondol maling. Mungkin Ia memerlukan sepatu itu untuk berlebaran.. atau mungkin ini merupakan cara Allah menegur hambanya yang kurang bersedekah.... atau mungkin saya diridhoi untuk beli sepatu baru... Ah, tapi yang pasti saya IKHLAS.. Terima kasih ya Allah... engkau kembali telah mengingatkan hambamu yang sering melupakanMu ini... Thank's God

[+/-] Selengkapnya...

9 Tehnik Untuk Berhenti Berfikir Negatif

Untuk sebagian besar dari kita, berpikir negatif mungkin sudah menjadi bagian dari diri. Ketika hal-hal tidak sesuai rencana, kita dengan mudah merasa depresi dan tidak bisa melihat sisi baik dari kejadian tersebut…
Berpikiran negatif tidak membawa kemana-mana, kecuali membuat perasaan tambah buruk, yang lalu akan berakibat performa kita mengecewakan. Hal ini bisa menjadi lingkaran yang tidak berujung.
Jessica Padykula menyarankan sembilan teknik untuk mencegah dan mengatasi pikiran negatif yang adalah sebagai berikut:

1. Hidup di saat ini.
Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.

2. Katakan hal positif pada diri sendiri
Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.
3. Percaya pada kekuatan pikiran positif

Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.

4. Jangan berdiam diri.
Telusuri apa yang membuat Anda berpikiran negatif, perbaiki, dan kembali maju. Jika hal tersebut tidak bisa diperbaiki lagi, berhenti mengeluh dan menyesal karena hal itu hanya akan menghabiskan waktu dan energi Anda, juga membuat Anda merasa tambah buruk. Terimalah apa yang telah terjadi, petik hikmah/pelajaran dari hal tersebut, dan kembali maju.

5. Fokus pada hal-hal positif.
Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti ‘hari ini cerah’ atau ‘makan sore hari ini menakjubkan’. Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.

6. Bergeraklah
Berolahraga melepaskan endorphin yang mampu membuat perasaaan Anda menjadi lebih baik. Apakah itu sekadar berjalan mengelelingi blok ataupun berlari sepuluh kilometer, aktifitas fisik akan membuat diri kita merasa lebih baik. Ketika Anda merasa down, aktifitas olahraga lima belas menit dapat membuat Anda merasa lebih baik.

7. Hadapi rasa takutmu
Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.

8. Coba hal-hal baru
Mencoba hal-hal baru juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengatakan ya pada kehidupan Anda membuka lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh. Jauhi pikiran ‘ya, tapi…’. Pengalaman baru, kecil atau besar, membuat hidup terasa lebih menyenangkan dan berguna.

9. Ubah cara pandang
Ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, cari cara untuk melihat hal tersebut dari sudut pandang yang lebih positif. Dalam setiap tantangan terdapat keuntungan, dalam setiap keuntungan terdapat tantangan.

Sumber : YIC



[+/-] Selengkapnya...

Mencari Hidayah Allah

Kata ihdinaa (tunjukkanlah kami) dalam ayat di atas merupakan bentuk kata perintah (fi’lu al-amr) dari kata hadâ-yahdii. Hadâ-yahdii sendiri artinya adalah memberi petunjuk kepada hal-hal yang benar. Kata hidayah merupakan bentuk fi’lu al masdar dari kata ini. Dalam Tafsir Munir karya Dr. Wahbah Az Zuhaily, hidayah ada lima macam. Satu hidayah ke hidayah yang lain bersifat hierarkis, di mana hidayah yang ada di bawahnya akan menyempurnakan hidayah yang ada di atasnya. Jadi semakin ke bawah maka semakin tinggi nilainya. Adapun kelima hidayah tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, hidayah ilhami. Hidayah ini adalah fitrah yang Allah SWT berikan kepada semua makhluk ciptan-Nya. Contohnya, Allah SWT memberikan hidayah ilhami kepada lebah yang suka hinggap di bunga untuk mengambil saripatinya, dapat membangun sarang yang menurut para ahli adalah desain yang paling sempurna berdasarkan fungsinya. Seorang bayi yang lapar diberi hidayah ilhami oleh Allah SWT untuk menangis dan merengek-rengek pada ibunya agar diberi ASI. Siapakah yang mengajari lebah dan bayi tadi untuk melakukan hal tersebut? Tentunya kita yang beriman kepada Allah SWT akan menjawab: itulah kekuasaan Allah SWT yang telah memberikan hidayah ilhami kepada makhluk-Nya. Semua makhluk yang diciptakan Allah SWT akan menerima hidayah ini. Dalam bahasa kita, hidayah ilhami ini adalah insting, yang merupakan tingkat inteligensi paling rendah.

Kedua, hidayah hawasi. Hidayah hawasi adalah hidayah yang membuat makhluk Allah SWT mampu merespon suatu peristiwa dengan respon yang sesuai. Contohnya adalah, ketika manusia mendapatkan kebahagiaan maka ia akan senang dan jika mendapatkan musibah maka ia akan sedih. Dalam istilah kita, hidayah hawasi ini adalah kemampuan inderawi.

Hidayah hawasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Maka respon yang ditimbulkan dari sebuah peristiwa sangat tergantung dengan lingkungan kita. Jika lingkungan itu normal maka respon kita akan normal. Misalnya, orang yang mendapatkan musibah akan sedih karena lingkungannya mengajarkan untuk merespon peristiwa tersebut dengan bersedih. Di lain tempat dan waktu mungkin saja respon ini berubah karena lingkungannya merespon dengan hal yang berbeda. Maka untuk mendapatkan hidayah hawasi ini kita harus membuat atau mengondisikan agar lingkungan kita normal alamiah.

Ketiga, hidayah aqli (akal). Hidayah akal adalah hidayah yang diberikan khusus pada manusia yang membuatnya bisa berfikir untuk menemukan ilmu dan sekaligus merespon peristiwa dalam kehidupannya dengan respon yang bermanfaat bagi dirinya. Hidayah akal akan bisa kita miliki manakala kita selalu mengambil pelajaran dari segala sesuatu, segala peristiwa, dan seluruh pengalaman hidup kita ataupun orang lain. Allah SWT berfirman:

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan bagi mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (QS. Al-Hasyr [59]: 2).

Yang dimaksud dengan ahli Kitab dalam ayat ini ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir pada masa Nabi Muhammad SAW di Madinah. Merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah karena mereka mengingkari Piagam Madinah.

Ayat ini memerintahkan kita untuk senantiasa mengambil hikmah dan ‘ibroh dari segala kejadian dalam kehidupan ini, dengan harapan kita tidak terjebak pada permasalahan yang sama. Hidayah akal ini akan bekerja dengan ilmu yang diperoleh, dari proses pembelajaran kehidupan yang telah dilakukan, yang kemudian digunakan untuk memilih respon yang terbaik bagi diri di masa mendatang. Semakin banyak kita mengambil pelajaran maka semakin tinggi kualitas hidayah akal kita.

Namun Hidayah akal ini mempunyai keterbatasan dalam menyeragamkan respon terhadap sebuah kejadian untuk seluruh manusia. Ada pepatah “lain ladang, lain pula belalangnya. Lain kepala, lain pula isinya.” Mungkin respon tertentu baik menurut kita, akan tetapi belum tentu baik menurut orang lain. Maka diperlukan sebuah standar untuk menyeragamkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang hak dan mana yang batil. Jawaban untuk hal ini ada pada tingkatan hidayah selanjutnya.

Keempat, hidayah dien (agama). Hidayah agama adalah sebuah panduan ilahiyah yang membuat manusia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan yang buruk. Hidayah agama ini merupakan standard operating procedure (SOP) untuk menjalani kehidupan. Tentunya yang membuatnya adalah yang Maha segala-galanya, yang menciptakan manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Karena yang Allah SWT tentukan, pastilah itu yang terbaik. Allah SWT berfirman :

”…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Maka apa saja yang ditentukan oleh agama, pastilah itu yang terbaik untuk kita. Hidayah agama ini bisa kita peroleh manakala kita selalu belajar dan memperdalan agama Islam ini.

Seperti Allah SWT tegaskan dalam Alqur’an:

”Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran [3]: 79).

Semua orang mampu mempelajari agama ini (Al Qur’an dan As Sunnah), akan tetapi tidak semua orang berkemauan untuk mengamalkan agama ini. Kemauan untuk mengamalkan agama akan berbanding lurus dengan sejauh mana kita bisa manggapai hidayah taufiq.

Kelima, hidayah taufiq. Hidayah taufiq adalah adalah hidayah yang membuat manusia hanya akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya. Hidayah taufiq ibarat benih yang Allah SWT semaikan di hati yang tidak hanya bersih dari segala hama penyakit, tetapi juga subur dengan tetesan robbani. Bersih dan suburnya hati akan terlihat dari pohon-pohon kebaikan dan amal yang tumbuh di atasnya. Hanya kesungguhan yang akan membuat kita pantas menerima hidayah taufiq dari Allah SWT. Firman Allah SWT :

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut [29]: 69).

Maka tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan Hidayah Taufiq Allah SWT, kecuali dengan jalan bersungguh-sungguh dan berjihad untuk menjalankan dan mengamalkan agama yang indah ini.

Penutup

Hidayah Allah SWT memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Semakin besar perjuangan dan kesungguhan kita, maka insya Allah kita akan semakin mudah mendapatkannya, karena semuanya tergantung kepada usaha kita. Hidayah Allah SWT ibarat sinar matahari yang menyinari seluruh alam ini, dan kita adalah penerima sinar tersebut. Jika kita membuka diri dengan hati yang bersih maka kita akan mudah untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT. Tapi jika kita menutupi hati dan diri kita dengan kotoran dan hama penyakit hati maka kita akan sulit untuk mendapatkan sinar hidayah-Nya.

Wallahu a’lam.

http://alrasikh.wordpress.com

[+/-] Selengkapnya...